Tampilkan postingan dengan label Flora & Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora & Fauna. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Burung Berkik - Gunung Merah (Scolopax saturata)

Ekosistem di Bumi banyak jumlahnya dan memilki peran yang sama penting. Salah satunya adalah ekosistem yang ada di hutan hujan. Sebanyak 50-75 persen dari semua spesies di Bumi, aslinya berasal dari hutan hujan, dan jumlahnya jutaan bahkan lebih, tetapi belum semuanya ditemukan. Karena keanekaragaman hayati yang sangat besar di habitat ini, maka hutan hujan tropis menjadi rumah bagi beberapa makhluk yang paling menarik di dunia.

Berikut salah satu jenis hewan yang temukan di hutan hujan tropis HL Raje Mendare :

Burung Berkik-gunung merah memiliki nama latin Scolopax saturata. Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal juga dengan nama Dusky Woodcock atau Rufous Woodcock.


Burung ini merupakan jenis burung berukuran kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan Eurasian Woodcock, serta memiliki warna bulu yang lebih gelap.

Habitat burung berkik-gunung merah adalah hutan gunung yang lembab di Pulau Sumatera dan Jawa. Mereka dapat ditemukan di daerah hutan gunung dengan ketinggian antara 1500 - 3000 m di atas permukaan laut.

Burung berkik-gunung merah membuat sarang berupa lumut di semak yang tidak terlalu rimbun. Tidak diketahui berapa jumlah dari populasi burung jenis ini. Namun yang pasti mereka masih sering terlihat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Seperti yang kita tahu, luas hutan di Jawa dan Sumatera kian hari kian menyempit akibat pembukaan lahan baru dan penebangan liar, tetapi hutan gunung sebagai habitat utama jenis burung ini, masih relatif aman. Meskipun demikian, populasi mereka setiap tahunnya mengalami trend menurun. Dan saat ini menurut IUCN Redlist, populasi burung berkik-gunung merah berada pada status "Hampir Terancam (NT)".

Pada pendakian gn patah team sempat menemukan secara langsung spesies ini, di ketinggian 2300 mdpl, awalnya tidak mempercayai jenis burung pemakan ikan ini ada di ketinggian diatas 2000 mdpl, tapi ternyata memang berkik adalah spesies endemik yang hanya ditemukan di pegunungan tinggi, danau serta hutan hujan yang basah. (Publikasi lengkap sedang disusun)

‪#‎XPDC‬ Gunung Patah

Gunung Patah Bukit Raje Mendare

Gunung Patah adalah sebuah dataran tinggi berbentuk Gunung yang terletak di negara Indonesia, Provinsi Bengkulu yang memiliki ketinggian 2817 mdpl, atau setara dengan 7175 kaki. Pada tanggal 1 Mei 1989, sebuah kawah aktif fumarol diamati oleh pilot pesawat kargo di daerah yang diselimuti hutan sekitar 6 km tenggara dari puncak Gunung Patah, dekat Bukit Baturigis Padang Guci Hulu Kab. Kaur Bengkulu (sekitar 4 deg 18 min S, 103 deg 19 min E). 


Lokasi Gunung Patah berada diperbatasan 3 provinsi, yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung atau yang secara administratif tepatnya terletak di kawasan HL Bukit Raje Mendare Padang Guci Hulu Kab.Kaur Bengkulu Indonesia. (Sumber: Internet)

Pada ketinggian 2450 mdpl terdapat danau sewarna bumi oleh penduduk lokal dinamakan "Danau Tumutan 7" yang merupakan sumber mata air dari 7 sungai. Pada ketinggian 2650 mdpl terdapat Kawah & Puncak Gunung Pada ketinggian 2817 mdpl.

Bukit Raje Mendare merupakan hutan hujan Sumatra yang masih perawan dan menyimpan kekayaan alam yang sangat menawan. Keberadaan Flora dan fauna langka yg semakin terancam funah seperti; Rafflesia, Amorphophallus, Kantong Semar, Anggrek, Gajah, Harimau, Rusa, Beruang, Paok Schneider, Pitta schneider, siamang, dll kemungkinan masih bisa dijumpai disini.

Selain itu Bukit Rajemendare dipercayai oleh penduduk lokal sebagai cikal bakal Kerajaan Seriwijaya. (KPPGPPL)

Catatan perjalanan lengkap tim Ekspedisi Gunung Patah secara tertulis akan segera di realese oleh tim yang terdiri dari gabungan pendaki Alumni Kampala FP Unib dan Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL) di kaskus oanc. Report resmi lengkap (on progress).

‪#‎XPDC‬ Gunung Patah With Jack Rimba, Triputra Kesuma, Muaz Gimilang, Nopri Anto & Amix Gegep

Situs Megalitik Batu Monolith Padang Guci

Megalitik Padang Guci secara administratif berada di Desa Bungin Tambun 3, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Secara astronomis, situs ini berada pada titik koordinat S 04º 28’32.4″ E 103º 14’58.4 ” Berdasarkan bentangan alamnya, lokasi tinggalan megalitik Padang Guci berada sekitar 500 meter arah timur dari Sungai Padang Guci. 


Pada profil monolit secara menyeluruh tidak nampak ada jejak pengerjaan. Monolith yang memiliki ukuran Panjang 2 m dan lebar 0,75 m ini, merupakan jenis batu andesit.

Pada awalnya di sekitar monolith terdapat batu dengan ukuran yang lebih kecil dan rotan yang sudah membatu, namun pada tahun 2008 ketika didirikan cungkup di atasnya, batu dan rotan tesebut dipindahkan. Keberadaan tinggalan megalitik berupa monolith di lokasi ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat berziarah (puyang). Kondisi tinggalan pada saat ini cukup terawat.

Upaya pelindungan telah dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kaur dengan dibuatkan cungkup sebagai pelindungan. Untuk pemeliharaannya
dinas telah menunjuk juru pelihara pada tahun 2008, namun pada tahun 2011 tidak dilanjutkan karena ada pertimbangan tertentu.

‪#‎KPPGPPL‬
Info & Foto : BPCB Jambi