Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Perayaan HUT RI Ke - 70 di Padang Guci Hulu

Perayaan Hut RI ke - 70 tahun 2015 di kecamatan Padang Guci Hulu kali ini diwarnai berbagai pertandingan dan perlombaan untuk umum dan tingkat sekolah dasar. Untuk umum, yakni pertandingan sepak bola dan bola voli putri, sedangkan pertandingan untuk sekolah dasar yakni sepak bola, bulu tangkis, sepak takraw, bola voli, tenis meja, dan catur. Bebagai kegiatan perlombaan seperti panjat pinang, tarik tambang, lari karung, dll dilaksanakan setelah selesai upacara pengibaran sangsaka merah putih. Pertandingan dan perlombaan diikuti oleh masyarakat, PGRI, Instansi-instansi, dan sekolah dasar di Kecamatan Padang Guci Hulu Kab. Kaur.


Puncak HUT RI ke 70 ditandai dengan upacara pengibaran sangsaka merah putih yang bertempat di lapangan desa Bungin Tambun Kec. Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur. Upacara diikuti oleh sejumlah kepala sekolah,PNS, dewan guru, kepala desa, pemuka masyarakat, prangkat desa, siswa smp dan murid sekolah dasar se kecamatan Padang Guci Hulu Kab. Kaur.

Upacara dipimpin oleh Camat Padang Guci Hulu selaku Inspektur Upacara dan yang bertindak selaku Komandan Upacara adalah Polsek Padang Guci Hulu.  Pasukan pengibar bendera Merah Putih yakni Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra)  pelajar SMP Negeri 1 Padang Guci Hulu.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai hiburan rakyat, perlombaan - perlombaan, pertandingan babak final sepak bola, final bola voli putri tingkat umum. Dilanjutkan dengan upacara penurunan bendera sangsaka Merah Putih dan pemberian piala dan hadiah kepada para pemenang di setiap pertandingan dan perlombaan.

Meskipun perayaan HUT RI ke - 70 di tahun 2015 ini berlangsung cukup sederhana, namun masyarakat Padang Guci Hulu menyambutnya sangat antusias.

DIRGAHAYU RI KE - 70 | KPPGPPL

Selasa, 16 Juni 2015

Puspa Langka Nasional Ini Dalam Masa Kepunahan

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 Tentang Satwa dan Bunga Nasional menetapkan Rafflesia Arnoldii sebagai bunga Nasional yang penyebutannya dikukuhkan sebagai puspa langka. Hanya saja, minimnya upaya perlindungan dan pelestarian populasi, habitat dan ekosistem puspa terbesar di dunia yang amat rentan mengalami kepunahan ini dalam masa kepunahan.

“Sejauh ini, upaya yang dilakukan pemerintah masih sebatas pada aturan dan kebijakan. Aksi konkret pemerintah masih jauh dari yang diharapkan. Padahal aksi konkret pemerintah sangat dibutuhkan. Minimnya upaya pemerintah secara tidak langsung mengakibatkan R. Arnoldi semakin terancam punah,” kata Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Sofian Ramadhan dihubungi Senin (15/6/2015) malam.

Oleh karena itu, Sofian berharap, pelaksanaan Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophalus 2015 yang akan dilaksanakan pada 14 -17  September 2015 di Bengkulu dapat menghasilkan strategi dan rencana aksi konservasi R. Arnoldi yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat. “Selama ini, hanya segelintir penduduk lokal yang berupaya melakukan perlindungan. Itupun dilakukan secara swadaya, tanpa adanya dukungan atau perhatian dari pemerintah,” tambah Sofian.

Dilansir http://www.mongabay.co.id pada 25 Februari 2015, Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya menerangkan, rafflesia (termasuk Raffelsia Arnoldii) sangat rentan mengalami kepunahan karena bersifat holoparasit. Yakni, tidak memiliki akar, batang dan daun, melainkan hanya berupa kuncup atau bunga dan dilengkapi haustorium yang memiliki fungsi mirip akar yang menghisap sari makanan hasil fotosistesa dari tumbuhan inang. Oleh karena itu, kehidupan rafflesia sangat bergantung pada inangnya. Di lain sisi, kehidupan inang juga sangat tergantung dengan tumbuhan lainnya yang menjadi inang strukturalnya.

Siklus hidup rafflesia bisa mencapai 5 tahun dan terdiri dari 7 fase, meliputi proses penyerbukan, pembentukan buah dan biji, penyebaran biji, inokulasi biji ke inang, kemunculan kuncup bunga atau knop, kuncup yang matang dan bunga mekar. Kuncup rafflesia tumbuh di akar atau batang inang. Sehingga, bisa ditemui tumbuh di permukaan tanah atau menggantung di batang inang. Kuncup yang menggantung disebut juga aerial bud.

Masa mekarnya berlangsung antara 3 – 8 hari. Saat musim kemarau, bunga akan mekar pada hari terjadi hujan. Sedangkan saat musim penghujan, bunga akan mekar pada hari tidak tejadi hujan. Saat mekar, bau daging busuk akan tercium dan mengundang banyak lalat. Lalatlah yang membantu penyerbukan bunga rafflesia. Setelah mekar, mahkota bunga membusuk. Namun bagian dasar bunga rafflesia betina akan membentuk buah.

Waktu yang diperlukan buah untuk matang berkisar 6 hingga 8 bulan. Buah rafflesia yang matang biasanya dimakan Tupai (tupai javanica) dan Landak (Hystrix javanica). Di dalam buah terdapat banyak biji yang berbentuk polong atau kacang-kacangan. Kulit bijinya sangat keras dan sulit pecah. Bila tidak mati, biji akan menginokulasi ke inang. “Namun, bagaimana proses inokulasi biji dan perkembangan biji dalam tubuh inang belum diketahui,” tambah Agus.

Dari aspek reproduksi, rafflesia memerlukan bunga jantan dan betina yang mekar agar terjadi penyerbukan, dan agen penyerbukannya. Padahal, sangat jarang ditemukan bunga jantan dan betina yang mekar saat bersamaan dalam satu lokasi. Ironisnya lagi, tidak semua bunga betina yang mengalami penyerbukan akan menghasilkan biji buah yang terletak di dasar mahkota bunga.
Aspek lainnya adalah kematian rafflesia cukup tinggi. Dari injakan satwa hutan, dimakan oleh tupai dan landak hingga perusakan kuncup atau bunga oleh manusia jahil. “Meskipun tidak mengalami gangguan akibat aktivitas manusia, populasi rafflesia akan cenderung turun atau sangat rentan mengalami kepunahan. Itu dikarenakan sedikit kuncup yang hidup dan menjadi bunga, dan sedikit bunga yang menjadi buah, serta sedikit biji yang berubah menjadi kuncup,” tutur Agus.
Ancaman lebih serius disebabkan oleh pemotongan inang, pembalakan liar dan perladangan yang tidak mendukung siklus hidup rafflesia. ”Di dunia, bunga rafflesia masuk dalam kategori terancam punah. Namun, menurut saya justru sedang dalam masa kepunahan,” kata Agus secara terpisah sebagaimana dilansir http://www.kompas.com pada 20 Juli 2011. (**) 

Sabtu, 06 Juni 2015

Peninggalan Batu Megalitik Gunung Agung Kaur Utara

Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu. Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar, karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh leluhur (nenek moyang), Kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat.

Di Indonesia, beberapa etnik masih memiliki unsur-unsur megalitik yang dipertahankan hingga sekarang.Salah satunya adalah masyarakat dari suku Basemah/Pasemah. Suku Basemah/Pasemah merupakan suatu masyarakat adat yang bermukim di beberapa wilayah dari 3 propinsi di pulau Sumatera Bagian Selatan, yaitu; Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung  berada di kaki Gunung Dempo. Tinggalan-tinggalan megalitik di wilayah ini tersebar sebanyak 19 situs, berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Budi Wiyana (1996), dari Balai Arkeologi Palembang. Tinggalan megalitik Basemah/Pasemah muncul dalam bentuk yang begitu unik, patung-patung dipahat dengan begitu dinamis dan monumental, yang mencirikan kebebasan sang seniman dalam memahat sehingga tinggalan [megalitik basemah/pasemah], disebut oleh ahli arkeologi sebagai Budaya Megalitik Basemah/Pasemah. Nilai penting tinggalan megalitik Pasemah terutama adalah pada ketuaan usianya, yang diperkirakan sekitar 2000 tahun sebelum masehi atau sekitar 4000 tahun yang lalu. Kita dapat membayangkan pada masa itu kebudayaan manusia di dunia masih belum terlalu berkembang, namun di tanah Basemah/Pasemah telah hidup budaya masyarakat yang cukup maju.


Masyarakat Padang Guci, Kedurang, Kinal, dan lain - lain adalah masyarakat berasal dari suku Besemah/Pasemah yang bermukim di wilayah kaki Bukit Raje Mendare. Kepercayaan terhadap (Ajaran) Leluhur masih sangat kental. Masyarakat adat ini begitu menjunjung tinggi (roh) para leluhur dan ajaran-ajarannya. Kepercayaan terhadap nenek moyang ini senantiasa dipelihara oleh mereka hingga berabad-abad. 

Salah satu contohnya adalah sebuah batu besar yang berada di desa Gunung Agung Kec. Kaur Utara Propinsi Bengkulu. Batu ini berbentuk bundar dengan panjang 2,4 m, lebar 1, 2 m, dan tinggi 1, 7 m. Batu ini dimanfaakan oleh penduduk lokal untuk berziarah kepada (roh) leluhur (puyang).


Masyarakat desa Gunung Agung menamakan batu ini adalah "Batu Beidung" karena dulunya batu ini berbentuk menyerupai hidung. Akibat tangan jahil manusia yang tak bertanggung jawab, batu dibelah sehingga berbentuk bundar seperti yang dilihat saat ini. Konon, untuk melihat batu ini tidak boleh sembarangan masuk, bebicara kotor, apalagi merusak karena akan mengakibatkan malapetaka bagi diri orang tersebut.

Disekitar batu ini juga terdapat Batu Farmasi 4 (batu empat) persis seperti Batu Empat yang berada di desa Naga Rantai Kec. Padang Guci Hulu. Konon, Batu empat ini merupakan tempat para leluhur (puyang) dari empat penjuru untuk bermusyawarah.

 

Upaya dari  perlindungan terhadap kedua batu ini, seperti pemberian pagar, atap, dll, sama sekali belum terlihat. 

Demikian sekilas tentang sejarah peninggalan batu megalitik desa Gunung Agung Kac. Kaur Utara Kabupaten Kaur. Semoga Bermanfaat!

KPPGPPL - Jelajah Situs 5 Mei 2015