Senin, 30 November 2015

Sipiso-piso

Air Terjun Sipiso-piso



           Tempat wisata ini berada sekitar 135 km dari kota Medan, tepatnya di wilayah Brastagi. Ketinggiannya 120 meter. Jika ingin pergi ke bagian bawah air terjun Sipiso-piso Tongging karena harus melewati 1000 anak tangga kira-kira setengah jam turun ke bawah melalui tangga yang berliku-liku dengan jalan kaki disepanjang tebing yang curam. Dari tempat ini, danauToba terlihat sangat indah.



air terjun sipiso-piso

Tjong A Fie’s Mansion Medan

  •  Tjong A Fie’s Mansion. 
  •  
  •  
  •                        Yaitu berupa rumah milik orang terkaya di Medan di masa lampau. Rumah ini menjadi tempat wisata yang menarik karena mencerminkan kemewahan bagai istana di jamannya. Bangunan yang dibangun tahun 1900 ini masih terlihat kokoh dan terawat. Banyak yang tidak menyangka bahwa Tjong A Fie’s Mansion sudah berumur ratusan tahun. Seberapa kayakah Mendiang Tjong A Fie ini? Dialah pemilik bank Kesawan, pemilik hampir seluruh perkebunan di Sumatera di jamannya serta dialah yang membangun rel kereta api di daratan China. Yang membuat namanya sangat terkenal hingga sekarang adalah surat wasiat yang menyatakan seluruh hartanya boleh dibagikan ke semua yang membutuhkan tanpa melihat ras, suku dan agama. Hingga kini, hartanya tidak habis!

  • rumah orang kaya di medanTjong A Fie’s Mansion

Jumat, 27 November 2015

Mesjid Azizi,Ikon Wisata Kota Tanjung Pura Langkat


salamsumu.blogspot.com

Taukah anda Mesjid Azizi? Jika anda bertempat tinggal di Kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara maka anda tak asing lagi dengan mesjid yang satu ini. Mesjid ini terletak di Jantung Kota Tanjung Pura yaitu di tepi  Jalan  Lintas Sumatera (JALINSUM) Timur yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Banda Aceh.

Mesjid Azizi dibangun pada tahun 1899 masehi dimasa kepemimpinan Sultan Musa Al Muazzamsyah. Ketika proses pembangunan mesjid ini berlangsung Sultan Musa pun wafat, sehingga pembangunan Mesjid Azizi ini sedikit terkendala dan masih semi permanen. Setelah itu pembangunan  dilanjutkan oleh putera beliau yang bernama Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmatsyah dan di selesaikan  pada tahun 1902 masehi  menjadi bangunan permanen hingga seperti saat ini. Nama Mesjid Azizi sendiri diambil dari nama Sultan Abdul Aziz.

Arsitektur Mesjid Azizi mirip dengan Mesjid Raya Al Mashun di Kesultanan Deli di Kota Medan. Itu terlihat dari gerbang depan mesjid ini dan juga bentuk kubah nya. Kesan indah juga terlihat dari ukiran-ukiran khas melayu yang dibuat disisi kubah dan bentuk mesjid yang memiliki perpaduan timur tengah dan india.

Pada tanggal 9 mei 2015 tim SaLam Binjai Community pun datang berkunjung untuk melihat keindahan mesjid ini. Berangkat pukul 15.00 wib dari Kota Binjai dan sampai di Mesjid Azizi ini kira-kira pukul 16.00 wib. Di areal Mesjid Azizi ini terdapat makam para Sultan dan Kerabatnya dari Kesultanan Langkat salah satunya adalah Pahlawan Nasional Republik Indonesia Tengku Amir Hamzah. Dan juga terdapat perpustakaan juga galeri tentang Kesultanan Langkat dan Tengku Amir Hamzah.


Dibeberapa kesempatan, di mesjid ini sering mengadakan acara Islami. Diantaranya lomba membaca Al Qur'an, lomba Shalawat Badar/Nasyid dan lain sebagainya. Setiap tahunnya juga di gelar acara untuk memperingati wafatnya Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan di tempat ini. Mesjid Azizi ini juga menjadi lambang kemahsyuran Kesultanan Langkat Kala itu dan menjadi ikon untuk Kota Tanjung Pura saat ini. Nah jika anda akan melewati Kota Tanjung Pura. Maka sempatkanlah berkunjung sejenak ke Mesjid Azizi yang indah ini. Agar kita paham bahwa negeri kita Indonesia memiliki budaya yang beragam yang tak ternilai harganya.

SaLam Lestari...

SaLam Binjai Community (SBC)

Rabu, 25 November 2015

Graha Bunda Maria Annai Velangkanni

  • Graha Bunda Maria Annai Velangkanni 
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •                Tempat apakah ini? Anda tentu menebak bahwa ini merupakan bangunan candi yang tinggi mirip dengan candi Prambanan (silakan lihat pada gambar di bawah). Tetapi sebenarnya tempat ini merupakan gereja katolik. Keunikan bentuknya ini mampu mendatangkan wisatawan yang sangat banyak, terutama bagi yang hobi fotografi. Lokasinya di jalan Sakura 3 no 7, Perumahan Taman Sakura Indah, Tanjung Selamat, Medan.

  • gereja mirip kuil
    Maria Annai Velangkanni

Minggu, 22 November 2015

Sungguh tragis, perusakkan rafflesia kembali terjadi.
Rafflesia! siapa yang tidak kenal, merupakan bunga terbesar di dunia, bunga yang menjadi ikon Propinsi Bengkulu sekaligus bunga kebanggaan masyarakat Bengkulu. Upaya untuk menjaga kelestariannya pemerintah mengeluarkan Undang - undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Pelestarian Alam Hayati dan Ekosistemnya. Barang siapa yang merusak dengan sengaja akan dikenakan tindakan pidana sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.
Namun, hal tersebut tidak juga cukup menyadarkan masyarakat untuk tidak merusak kelangsungan hidup flora langka tersebut.
Jika sebelumnya KPPGPPL menemui beberapa bonggol atau Rafflesia yang sengaja dirusak oleh tangan jahil manusia, kali ini perusakan makin parah yang mengakibatkan Rafflesia ini terancam punah.


Perusakan habitat Rafflesia bengkuluensis kembali dilakukan dengan sengaja oleh manusia yang tidak bertanggungjawab di satu titik dalam kawasan Hutan Sungai Penangkulan Padang Guci Hulu. Kawasan ini merupakan wilayah favorit tumbuhan Rafflesia bengkuluensis.
Mereka memotong tumbuhan inang (tetrastigma) yang merupakan tempat bergantungnya kelangsungan hidup bunga Rafflesia. Sadusnya lagi mereka membakar lokasi tersebut yang mengakibatkan sejumlah bonggol/calon Bunga Rafflesia mati atau musnah.
Kejadian diketahui saat KPPGPPL sedang melakukan peninjauan rutin di lokasi (21/3/2014).
Akibatnya..kawasan tersebut sulit untuk terselamatkan dan sangat sulit untuk kembali ditumbuhi bunga Rafflesia yg menjadi kebangaan itu.
Sulit untuk dipercaya untuk apa mereka merusak/membakarnya padahal tumbuhan tersebut jelas-jel as tidak menggangu bahkan jika dikelolah dengan baik tumbuhan tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi manusia itu sendiri.
Mari membuka diri untuk bersyukur & berlaku adil terhadap alam yang memberikan sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup kita !
Zaman Megalitikum (mega berarti besar dan lithikum atau lithos berarti batu) disebut juga zaman batu besar. Hasil budayanya berupa bangunan-bangunan besar yang berfungsi sebagai sarana pemujaan kepada roh nenek moyang. Kebudayaan ini berlangsung hingga zaman logam, bahkan sampai saat ini kita masih dapat menjumpai di berbagai daerah di indonesia sebagai sisa-sisa tradisi budaya Megalitikum. Adapun hasil budaya Megalitikum ini meliputi: menhir, batu berundak, dolmen, kubur batu, sarkofagus, waruga, serta berbagai jenis arca berukuran besar.
1. Menhir
Menhir adalahMenhir adalah tugu atau batu yang tegak, yang sengaja di tempatkan di suatu tempat untuk memperingati orang yang sudah meninggal. Batu tegak ini berupa media penghormatan dan sekaligus lambang bagi orang-orang yang sudah meninggal tersebut.
Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol dan Italia. Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani artinya besar dan lith berarti batu. Para arkeolog mempercayai bahwa situs ini digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang.
2. Punden berundak
Punden berundak adalahPunden berundak merupakan bangunan yang di susun secara bertingkat-tingkat yang di maksudkan untuk melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang, bangunan ini kemudian menjadi konsep dasar bangunan candi pada masa hindu-buddha.
Struktur dasar punden berundak ditemukan pada situs-situs purbakala dari periode kebudayaan Megalit-Neolitikum pra-Hindu-Buddha masyarakat Austronesia, meskipun ternyata juga dipakai pada bangunan-bangunan dari periode selanjutnya, bahkan sampai periode Islam masuk di Nusantara. Persebarannya tercatat di kawasan Nusantara sampai Polinesia, meskipun di kawasan Polinesia tidak selalu berupa undakan, dalam struktur yang dikenal sebagai marae oleh orang Maori. Masuknya agama-agama dari luar sempat melunturkan praktik pembuatan punden berundak pada beberapa tempat di Nusantara, tetapi terdapat petunjuk adanya adopsi unsur asli ini pada bangunan-bangunan dari periode sejarah berikutnya, seperti terlihat pada Candi Borobudur, Candi Ceto, dan Kompleks Pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri.
3. Kubur batu
Kubur batu adalahBentuknya mirip seperti bangunan kuburan seperti yang dapat kita lihat saat ini, umumnya tersusun dari batu yang terdiri dari dua sisi panjang dan dua sisi lebar. Sebagian besar kubur batu yang di temukan terletak membujur dari arah timur ke barat.
Pada masa prasejarah ketika kebudayaan Megalitikum berkembang bahwa kubur batu merupakan salah satu dari jenis peninggalan batu-batu besar (megalit). Sedangkan sesuai dengan namanya fungsi dari kubur batu sendiri sebagai tempat penguburan (stonecists) bagi orang-orang yang dihormati di lingkungan masyarakat yang hidup pada masa megalit. Kubur batu ini sudah dilakukan pengamanan dengan cara diberi pagar keliling yang terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 5,50 meter dan lebar 5 meter. Sedang bagian atas di beri cungkup seng dengan tiang penyangga dari kayu dan pondasi semen.
4. Sarkofagus
Sarkofagus adalahSejenis kubur batu tetapi memiliki tutup di atasnya, biasanya antara wadah dan tutup berukuran sama. Pada dinding muka sarkofagus biasanya diberi ukiran manusia atau binatang yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Sarkofagus sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Di Mesir kuno, sarkofagus merupakan lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan kadang-kadang dipahat dengan alabaster
5. Dolmen
Dolmen adalahDolmen merupakan bangunan megalithik yang memiliki banyak bentuk dan fungsi, sebagai pelinggih roh atau tempat sesaji pada saat upacara. Dolmen biasanya di letakan di tempat-tempat yang dianggap keramat, atau di tempat pelaksanaan upacara yang ada hubungannya dengan pemujaan kepada roh leluhur.
Dolmen adalah sebuah meja yang terbuat dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu. Hal ini menunjukan kalau masyarakat pada masa itu meyakini akan adanya sebuah hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, mereka percaya bahwa apabila terjadi hubungan yang baik akan menghasilkan keharmonisan dan keselarasan bagi kedua belah pihak.
6. Arca batu
Arca adalahArca batu banyak di temukan di beberapa tempat di wilayah indonesia, diantaranya pasemah, Sumatra Selatan dan Sulawesi Tenggara. Bentuknya dapat menyerupai binatang atau manusia dengan ciri Negrito. Di Pasemah ditemukan arca yang dinamakan Batu Gajah, yaitu sebongkah batu besar berbentuk bulat diatasnya terdapat pahatan wajah manusia yang mungkin merupakan perwujudan dari nenek moyang yang menjadi objek pemujaan.
Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti (Dewanagari: मूर्ति), atau murthi, yang merujuk kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan (murta). Berarti “penubuhan”, murti adalah perwujudan aspek ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan. Menurut kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai fokus pemujaan kepada Tuhan setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan persembahan atau sesaji. Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut, atau proporsinya harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan.
7. Waruga
Waruga adalahWaruga adalah kubur batu yang tidak memiliki tutup, waruga banyak ditemukan di situs Gilimanuk, Bali.
Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.

Satu Kuntum Rafflesia bengkuluensis Mekar di Padang Guci Kab. Kaur

Rasa gembira, senang, bercampur sedih itulah yang kami rasakan saat melihat satu bongkol rafflesia bengkuluensis mulai membukakan kelopaknya pada Rabu 23 September 2015.
"Sejumlah helai terlihat sudah membuka pada ketinggian 15 cm dari permukaan tanah. Perkiraan kami  akan membuka secara sempurna pada harini (24/9) dan bertahan hingga 3 hari ke depan".
Kegembiraan kami tak cukup disini, masih dalam kawasan ini juga terdapat 1 bongkol R. Bengkuluensis dalam fase perigon sempurna, yang siap ekar dalam minggu ini.
"Saat ini, dalam lokasi tercatat sekitar 12 bongkol dalam fase kopula dan brakta"
Pada hari berikutnya, kesedihan kami kembali terasa setelah melihat 1 bongkol sudah membuka namun gagal mekar.
"Inilah akibatnya jika akar tetrastigma sudah mati, bongkol rafflesia pun ikut mati sampai pada kepunahan.
Pemotongan inang rafflesia yang dilakukan oleh orang yang tak bertanggungjawab Raff terjadi persis dimana bongkol ini menempel. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena bisa saja sejumlah bonggol yang terdapat dalam lokasi ini semuanya gagal mekar atau punah untuk selamanya.
Lokasi yang menjadi habitat Rafflesia bengkuluensis ini tepatnya berada di hutan kawasan Sungai Penangkulan Desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur Bengkulu, berada di selatan berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Bengkulu, 50 kilometer dari Kota Manna Bengkulu Selatan, dan berjarak 60 kilomiter di Utara Kota Bintuhan Kab. Kaur.
Salam Lestari!©KPPGPPL2015