Minggu, 22 November 2015
Satu Kuntum Rafflesia bengkuluensis Mekar di Padang Guci Kab. Kaur
Minggu, 04 Oktober 2015
Siswa Hiking, Menyaksikan Rafflesia Mekar
Jumat, 18 September 2015
Perusakan Habitat Rafflesia bengkuluensis
Perusakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab terhadap habitat rafflesia bengkuluensis Padang Guci Kab. Kaur Bengkulu kembali terjadi awal September yang lalu (4/9).
Sebelumnya, dilokasi ini tercatat sekitar 12 bonggol, 2 diantaranya sudah siap mekar dan sisanya masih dalam fase Kopula dan Brakta.
Aksi perusakan ini tidak diketahui siapa yang melakukannya. Namun, berdasarkan bukti yang ada dilokasi, diduga kuat dilakukan dengan sengaja.
"Pelaku merusak dengan cara menebas/memotong 2 induk inang/tetrastigma, yang mengakibatkan puluhan bongkol rafflesia terancam mati bahkan punah untuk selama-lamanya".
KPPGPPL yang selama ini menjaga dan melestarikan Keberadaan Puspa Langka dalam kawasan itu, bahkan selalu berupaya untuk mengenalkan dan memasyarkatkan rafflesia pada semua golongan, sangat menyesalkan terhadap aksi perusakan ini.
"Bukannya Bangga, Menjaga, dan Ikut melestarikan malah merusak. Padahal dalam kawasan ini rafflesia bengkuluensis favorit tumbuh".
Penandatanganan Deklarasi Bengkulu Komitmen Bersama para pihak untuk melaksanakan SRAK Rafflesia dan Amorphophallus
Setelah peluncuran buku SRAK Rafflesia dan Amorphophallus, akan diikuti dengan DEKLARASI Bengkulu yang merupakan pernyataan sikap Komitmen bersama para pihak untuk melaksanakan kedua SRAK yang telah diluncurkan tersebut.
Deklarasi Komitmen bersama ini akan ditanda tangani oleh 10 perwakilan stakeholder Rafflesia dan Amorphophallus, yaitu :
1. Pemerintah daerah yang diwakili oleh Gubernur Provinsi Bengkulu
2. Pemerintah Pusat yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Dr. Henri Bastaman
3. Lembaga Penelitian Nasioanl yaitu LIPI yang diwakili oleh Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Prof. Dr. Eni Sudarmonowati
4. Lembaga Penelitian Daerah yang diwakili oleh Dewan Riset Daerah Bengkulu, Dr. Bandi Hermawan
5. Perguruan Tinggi yang diwakili oleh
Universitas Bengkulu.
6. Lembaga Konservasi Ex Situ yang diwakili oleh Pusat Konservasi Kebun Raya Bogor. Dr. Didik Widyatmoko
7. Lembaga Konservasi In Situ yang diwakili oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu. Ir. Anggoro
8. Lembaga Swadaya Masyarakat yang diwakili oleh Yayasan Kehati, Dr. Teguh Triono
9. Pelaku Usaha Ekowisata Bengkulu, diwakili oleh Krishna
10. Media yang diwakili oleh Jurnalis dari Media Indonesia
Deklarasi merupakan kebulatan tekad dan dukungan moral yang akan menjadi spirit pelaksanaan SRAK dalam 10 tahun ke depan. Di dalam SRAK telah jelas dipaparkan SIAPA BERBUAT APA, KAPAN DAN DIMANA SERTA TARGET OUTPUT DAN OUTCOMEnya.
Penyusunan SRAK kedua puspa langka tersebut memerlukan waktu sekitar satu tahun melalui FGD, Lokakarya di tingkat regional dan nasional yang melibatkan para ahli, peneliti, akademisi, pemerhati, pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat dan Management Authority.
Source by LIPI
Selasa, 15 September 2015
Pemerintah luncurkan strategi konservasi Rafflesia
Bengkulu (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meluncurkan dokumen strategi rencana aksi konservasi flora langka Rafflesia spp dan Amorphophallus spp di Bengkulu, Selasa.
Pada peluncuran strategi di sela simposium tentang Rafflesia dan Amorphophallus, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hendri Bastaman mengatakan dua bunga langka itu merupakan flora pertama yang punya Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK).
"Selama ini perhatian peneliti dan pemerintah lebih ke arah fauna sedangkan flora baru Rafflesia dan Amorphophallus yang memiliki SRAK," katanya.
Hendri mengatakan strategi konservasi yang berlaku hingga 2025 itu antara lain meliputi peran masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya konservasi dan target hasilnya. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan SRAK juga mengatur pengenaan sanksi bagi lembaga yang tidak menjalankan peran mereka dalam kegiatan konservasi dua flora langka itu.
"Diatur siapa yang melakukan apa dan akan ada hukuman bagi lembaga yang tidak menjalankan peran," katanya.
Peran masyarakat dalam pelestarian dan pemanfaatan dua bunga langka itu, menurut Enny, juga diatur dalam SRAK.
Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah berharap SRAK bisa menjadi panduan dalam pelestarian bunga langka tersebut.
"Kami bangga memiliki bunga raksasa yang tumbuh di hutan Bengkulu karena itu kami berharap SRAK ini benar-benar dijalankan," katanya.
Hendri mengatakan dokumen SRAK tersebut akan ditetapkan sebagai produk hukum berbentuk Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan setelah simposium internasional mengenai Rafflesia spp dan Amorpophallus spp yang berlangsung 14 sampai 16 September 2015.
"Ibu Menteri siap menandatangani dan menetapkan SRAK ini setelah simposium," katanya.
Saat ini ada empat jenis Rafflesia di hutan tropis Bengkulu, antara lain jenis Rafflesia arnoldii , Rafflesia gadutensis , Rafflesia hasselti dan Rafflesia bengkuluensis.
Adapun jenis Amorphophallus yang terdata di daerah ini antara lain Amorphophallus titanum, Amorphophallus variabilis , Amorphophallus phaeonifolius dan Amorphophallus gigas .
Source by: antaranews.com
Foto by Patris KPPGPPL
Minggu, 06 September 2015
Rafflesia arnoldii mekar September 2015
Satu kuntum rafflesia arnoldii kembali mekar di Padang Guci Kabupaten Kaur provinsi Bengkulu pada hari Rabu, 2 September 2015. Bunga tersebut mekar dengan sempurna mempunyai kelopak lima dengan diameter 55 centimeter.
Bunga rafflesia yang mekar ini merupakan satu dari empat bonggol rafflesia yang ditemukan warga Manau Sembilan pada Agustus yang lalu. Awalnya bonggol rafflesia ini diduga oleh KPPGPPL adalah jenis R. bengkuluensis. Namun setelah mekar, dengan memperhatikan ramenta yang ada di dalamnya rafflesia ini merupakn jenis arnoldii.
Dalam lokasi terdapat tiga bonggol yang masih dalam fase kopula, satu bonggol yang sudah mekar, dan satu tetrastigma.
Lokasi bunga mekar tepatnya berada di kawasan hutan di pinggir sungai Tanah Abang desa Manau Sembilan Kecamatan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu yang berjarak sekitar 6 kilometer dari desa.
Untuk menjangkau wilayah ini bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua hingga perkebunan penduduk, lalu berjalan sekitar 10 menit hingga kelokasi bunga mekar.
Desa Manau sembilan terletak di jarak sekitar 200 kilometer di selatan Ibu Kota Provinsi Bengkulu, 60 kilometer dari kota Manna Bengkulu Selatan, dan 50 kilometer dari kota Bintuhan Kabupaten Kaur.
Salam Lestari !
Selasa, 25 Agustus 2015
Satu Titik Lokasi Rafflesia Kembali Ditemukan KPPGPPL
Bunga Rafflesia yang merupakan bunga kebanggaan masyarakat Bengkulu sekaligus bunga terbesar di dunia, kembali ditemukan oleh salah satu anggota KPPGPPL pada Selasa, 25 Agustus 2015.
Satu titik lokasi tumbuhannya Rafflesia ini, ditemukan di hutan kawasan Sakaian Mayan desa Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kab. Kaur yang merupakan lokasi habitat Rafflesia jenis arnoldii. Lokasi Bunga Rafflesia ini ditemukan berjarak sekitar 100 meter sebelum menuju habitat rafflesia arnoldii tersebut.
Di lokasi ditemukan satu bunga rafflesia yang sudah membangkai, satu bonggol rafflesia dalam fase brakta, dan satu tetrastigma.
Untuk jenis rafflesia ini belum bisa diketahui masih menunggu satu bonggol tersebut mekar.
Dengan demikian lokasi tumbuhannya bunga Rafflesia di wilayah Kab. Kaur yang sudah ditemukan antara lain; Talang Tais Kec. Kelam Tengah Kab. Kaur, Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur, Bukit Puguk dan Air Kuning Bungin Tambun Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur, Wilayah Gunung Tiga Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur, dan Batu Cagak Kec. Tetap Kab. Kaur.
Salam Lestari ! KPPGPPL
Foto by Haryono
Jumat, 14 Agustus 2015
Habitat tiga jenis rafflesia Bengkulu teridentifikasi
![]() |
| Rafflesia Jenis Gadutensis Foto KPPL |
Sabtu, 08 Agustus 2015
Rafflesia Spesies bengkuluensis Kembali Ditemukan Warga Padang Guci Hulu Kab. Kaur
Berawal dari beberapa warga Padang Guci Hulu yang hendak mencari burung disekitar hutan kawasan di tepi Sungai Tanah Abang, tanpa disengaja mereka menemukan bonggol Rafflesia Spesies bengkuluensis. Penemuan ini lansung mereka laporkan kepada KPPGPPL (Juma't, 7 Agustus 2015).
Sabtu, 8 Agustus 2015 - Menanggapi laporan tesebut tim KPPGPPL langsung menuju lokasi untuk identifikasi.
Lokasi rafflesia bengkuluensis yang ditemukan berjarak sekitar 5 km dari pemukiman warga desa Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kab. Kaur atau lebih tepatnya berada di hutan kawasan Sungai Tanah Abang Padang Guci Hulu.
Untuk menuju lokasi ini terbilang cukup mudah, dengan kendaraan roda dua hanya dibutuhkan waktu sekitar 20 menit hingga kebun warga. Selanjutnya berjalan kaki dengan menelusuri aliran Sungai kecil Tanah Abang dibutuhkan waktu sekitar 10 menit hingga ke lokasi rafflesia ditemukan.
"Di lokasi terdapat 4 bonggol Rafflesia Spesies bengkuluensis dan satu tetrastigma.Tiga bonggol masih berukuran kecil dalam fase kopula dan satu bonggol sudah berukuran besar dalam fase perigon sempurna yang artinya siap mekar satu minggu mendatang". Tim KPPGPPL memprediksi bonggol ini akan mekar pada tanggal 14 Agustus 2015.
Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis baru dari Indonesia. Jenis ini memakai nama epithat "Bengkuluensis" untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini didiskripsikan. Jenis ini pertama kali didiskripsikan oleh Agus Susatya bersama 2 rekanya dari Malaysia, yakni Arianto dan et Mat - Salleh di desa Talang Tais, Padang Guci, Kabupaten Kaur pada tahun 2005.
Rafflesia bengkuluensis berukuran medium ( diameter bunga 50-55 cm ) dengan helai perigon berukuran 15-19 cm. Helai perigon berwarna orange tua atau merah bata, dengan bercak berwarna orange muda dan berukuran panjang 9 mm dan lebar 4-6 mm.
Jenis ini favorit tumbuh di daerah hutan hujan tropis dilembah bukit barisan Sumatera yakni di Padang Guci Kab. Kaur Propinsi Bengkulu.
Salam Lestari!
Sabtu, 25 Juli 2015
Rafflesia Bengkuluensis Mekar Juli 2015 di Padang Guci, Kaur
Satu kuntum bunga rafflesia jenis bengkuluensis kembali mekar pada tanggal 12 Juli 2015 di Padang Guci Kab. Kaur Bengkulu. Bunga mekar kelopak lima dengan diameter 53 cm pada ketinggian 15 cm diatas permukaan tanah.
Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis baru dari Indonesia. Jenis ini memakai nama epithat "Bengkuluensis" untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini didiskripsikan. Jenis ini pertama kali didiskripsikan oleh Agus Susatya bersama 2 rekanya dari Malaysia, yakni Arianto dan et Mat - Salleh di desa Talang Tais, Padang Guci, Kabupaten Kaur pada tahun 2005.
Rafflesia bengkuluensis berukuran medium ( diameter bunga 50-55 cm ) dengan helai perigon berukuran 15-19 cm. Helai perigon berwarna orange tua atau merah bata, dengan bercak berwarna orange muda dan berukuran panjang 9 mm dan lebar 4-6 mm.
Jenis ini favorit tumbuh di daerah hutan hujan tropis dilembah bukit barisan Sumatera atau tepatnya di kawasan Sungai Penangkulan Desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur Bengkulu yang berjarak 200 km di Selatan Kota Bengkulu Indonesia.
Akses menuju lokasi terbilang cukup mudah. Dari desa Manau Sembilan dengan menggunakan kendaraan roda dua hanya membutuhkan waktu 15 menit hingga di kebun warga , kemudian dilanjutkan berjalan kaki selama 10 menit menuju di lokasi lokasi habitat Rafflesia.
Salam Lestari!
Minggu, 05 Juli 2015
5 - 7 hari lagi bonggol Rafflesia bengkuluensis ini mekar
Saat tim KPPGPPL melakukan peninjauan harini 5 Juli 2015, terlihat Bonggol sudah memasuki fase perigon sempurna dengan ukuran diameternya 21 cm.
"Kami memperkirakan bonggol ini akan mekar sempurna pada tanggal 11 atau 12 Juli 2015".
Untuk melihat Puspa Langka ini sekarang sudah tidaklah begitu sulit, karena dari desa dengan menggunakan kendaraan roda dua hingga kebun warga akses terbilang cukup lancar. Selanjutnya, dari kebun warga hingga ke lokasi rafflesia bengkuluensis hanya memakan waktu 10 menit.
Rafflesia bengkuluensis ini tepatnya berada di Kawasan Hutan Sungai Penangkulan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur Bengkulu.
Selamat Berkunjung!
Rabu, 06 Mei 2015
Lokakarya Regional Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Rafflesia dan Amorphophallus di Bengkulu
Bengkulu (Antara) - Kerusakan hutan di Pulau Sumatera akan mempercepat kepunahan sejumlah flora langka, termasuk jenis Rafflesia dan Amorphopalus, kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Adi Susmianto.
"Karena sebagian besar habitat bunga langka Rafflesia dan Amorphophallus ada di kawasan hutan," kata dia, saat lokakarya regional penyusunan strategi dan rencana aksi konservasi Rafflesia dan Amorphophallus di Bengkulu, Selasa.
Ia mengatakan berbagai aktivitas yang intens di dalam kawasan hutan menjadi ancaman utama untuk pelestarian puspa langka itu.
Apalagi dua bunga itu dapat dikenali dan diketahui keberadaannya di satu kawasan tertentu bila dalam kondisi berbunga atau mekar.
"Sementara tidak setiap saat bunga Rafflesia atau Amorphophallus itu mekar, sehingga ini menambah ancaman di habitatnya," ucapnya.
Dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rafflesia dan Amorphophallus yang digelar di Bengkulu, ia mengatakan ada tiga aksi yang diharapkan mampu melestarikan Rafflesia dan Amorphophallus.
Tiga aksi tersebut yakni konservasi "insitu" atau pelestarian di habitat asli, konservasi "ekssitu" atau pelestarian di luar habitat serta serta penyadaran masyarakat atau "public awareness".
Ia mengatakan strategi dan rencana aksi konservasi tersebut disusun oleh para pihak, termasuk peneliti bunga Rafflesia dan Amorphophallus dari perguruan tinggi.
Tidak hanya itu, aspirasi kelompok pelestari bunga Rafflesia dan Amorphophalus juga ditampung dalam strategi dan rencana aksi tersebut, salah satu contohnya adalah rencana pemberian insentif bagi pemelihara puspa langka.
"Perlu juga mengakomodir masyarakat yang memiliki lahan habitat bunga langka yang berada di luar kawasan hutan, memberikan insentif agar mereka melestarikan bunga yang hidup di atas lahannya," tutur dia.
Dokumen SRAK tersebut diharapkan menjadi rujukan nasional dalam pelestarian dan pemanfatan puspa langka Rafflesia dan Amorphophallus yang akan diluncurkan saat Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus di Bengkulu pada September 2015.
Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya mengatakan ada lebih 12 jenis Rafflesia di Indonesia dan 10 jenis terdapat di Pulau Sumatera.
"Kerusakan kawasan hutan menjadi penyebab utama ancaman kepunahan bunga langka ini, sementara pengembangan secara eks situ atau di luar habitat sangat sulit," ucap dia.
Hal ini dibenarkan peneliti habitat Rafflesia dari Kebun Raya Bogor Sofie Mursidawati. Ia mengatakan pernah memindahkan inang Rafflesia dari Pangandaran Jawa Barat pada 2004, dan baru berhasil mekar untuk pertama kali pada 2010.
"Baru satu jenis yaitu Rafflesia padma. Saya sudah mencoba untuk jenis Rafflesia arnoldii, tapi sepertinya lebih rumit dari semua jenis Rafflesia, ukuran arnoldii yang paling besar," ungkapnya.
Kamis, 26 Maret 2015
Rafflesia Bengkuluensis Mekar Kelopak 6 di Padang Guci Kab. Kaur
Rafflesia bengkuluensis memang favorit mekar di kawasan hutan Sungai Penangkulan Padang Guci Hulu Kab. Kaur. Kembali satu kuntum rafflesia jenis ini mekar harini (26/3/2015) sangat langka yaitu mempunyai kelopak 6 dengan diameter bunga 45 cm, dan berada diketinggian 2 meter dari permukaan tanah.
Dilokasi habitat Rafflesia bengkuluensis saat ini mempunyai 8 bonggol/calon bunga dalam fase kopula dan fase barakta.
Sementara itu di dalam kawasan hutan Sakaian Mayan yang merupakan habitat Rafflesia arnoldii, terdapat satu bonggol yang sudah dalam fase perigon sempurna yang arti dalam beberapa minggu mendatang Rafflesia ini juga akan mekar. Dalam kawasan habitat Rafflesia jenis arnoldi saat ini menyisakan 4 bonggol dalam fase kopula dan brakta.
Salam Lestari!
KPPGPPL 2015
Senin, 23 Maret 2015
Tragis...!Habitat Rafflesia Dirusak
Rafflesia! siapa yang tidak kenal, merupakan bunga terbesar di dunia, bunga yang menjadi ikon Propinsi Bengkulu sekaligus bunga kebanggaan masyarakat Bengkulu. Upaya untuk menjaga kelestariannya pemerintah mengeluarkan Undang - undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Pelestarian Alam Hayati dan Ekosistemnya. Barang siapa yang merusak dengan sengaja akan dikenakan tindakan pidana sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.
Namun, hal tersebut tidak juga cukup menyadarkan masyarakat untuk tidak merusak kelangsungan hidup flora langka tersebut.
Kali ini perusakan terjadi di Kawasan Hutan Sungai Penangkulan Padang Guci Hulu, yang merupakan wilayah favorit tumbuhan Rafflesia bengkuluensis.
"Mereka memotong tumbuhan inang (tetrastigma) yang merupakan tempat bergantungnya kelangsungan hidup bunga Rafflesia. Selanjutnya mereka membakar lokasi tersebut yang mengakibatkan sejumlah bonggol/calon Bunga Rafflesia mati atau musnah".
Akibatnya..kawasan tersebut sulit untuk terselamatkan dan sangat sulit untuk kembali ditumbuhi bunga Rafflesia yg menjadi kebangaan itu.
Saat ini habitat Rafflesia di hutan Padang Guci Hulu ada 2 titik lagi. 1 titik berlokasi di hutan Sungai Penangkulan untuk Rafflesia bengkuluensis & 1 titik dihutan Sakaian Mayan untuk Rafflesia arnoldii.
"Sulit untuk dipercaya untuk apa mereka merusak/membakarnya padahal tumbuhan tersebut jelas-jel as tidak menggangu bahkan jika dikelolah dengan baik tumbuhan tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi manusia itu sendiri".
Mari membuka diri untuk bersyukur & berlaku adil terhadap alam yang memberikan sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup kita !
KPPGPPL 2015
Sabtu, 07 Maret 2015
Ditemukan Satu Rafflesia Sedang Mekar di Padang Guci Kab. Kaur
Satu kuntum Rafflesia jenis bengkuluensis ditemukan sedang mekar harini (7 Maret 2015) di Padang Guci Hulu Kab. Kaur. Awalnya Rafflesia ini diketahui berdasarkan laporan masyarakat kepada KPPGPPL yang berkebun disekitar area itu.
Rafflesia ini mekar diameter 52 cm dengan kondisi kelopak terjepit diantara akar-akar liar yg ada dilokasi, sehingga menyebabkan bunga tidak bisa mekar sempurna. Di dalam lokasi juga ditemukan satu bonggol/kuncup Rafflesia bengkuluensis yang masih berukuran kecil juga tanaman inang (Tetrastigma) berukuran jempol kaki menjalar kedalam tanah.
Lokasi Rafflesia mekar tepatnya berada di sekitar area Perkebunan Lipih di pinggir Sungai Cawang Kidau desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur atau berada di jarak sekitar 2 kilometer arah utara Habitat Rafflesia bengkuluensis di Sungai Penangkulan.
Sementara itu di lokasi habitat Rafflesia bengkuluensis di Kawasan Hutan Sungai Penangkulan Padang Guci Hulu, saat ini terdapat satu bonggol Rafflesia bengkuluensis siap mekar dalam kurun waktu 4 hingga 7 hari lagi, kondisi bonggol sudah memasuki fase perigon sempurna. Data ini didapat berdasarkan peninjauan rutin yang dilakukan oleh KPPGPPL pada hari Juma't, 6 Maret 2015.
Salam Lestari!
Bengkulu The Land Of Rafflesia!
Minggu, 22 Februari 2015
Hampir Layu..! Rafflesia arnoldii mekar di Padang Guci, Kab. Kaur
Satu kuntum rafflesia jenis arnoldii mekar dengan diametar 65 cm di dalam kawasan Sakaian Mayan, Manau Sembilan, Padang Guci Hulu, Kab. Kaur.
Posisi bunga yang mekar berada di ketinggian 2 meter dari permukaan tanah, warna bunga sudah mulai berwarna kecoklatan, dan diduga rafflesia ini mekar tak sempurna pada dua hari yang lalu karena terlihat dua helai perigon gagal membuka sehingga menutupi bagian tabung bunga rafflesia.
Sebelumnya (17/2/2015) , KPPGPPL memprediksi bahwa bunga ini akan mekar sempurna pada harini (22/2/2015). Namun, kembali tidak sesuai apa yang diharapkan, bunga rafflesia sudah memsuki fase layu/mati. Prosesnya layunya bunga lebih cepat seperti yang diketahui bahwa Bunga Rafflesia jika mekar sempurna bisa bertahan 5 sampai 7 hari, dan kemudian layu/mati.
Hal ini bisa saja terjadi karna pengaruh Iklim/cuaca yang terlalu dingin, dan juga bisa disebabkan karena posisi bonggol/kuncup berada diketinggian sehingga mempercepat proses mekar dan layunya/mati bunga rafflesia.
Dilokasi saat ini terdapat 6 bonggol/kuncup rafflesia jenis arnoldii, dan 8 bonggol/kuncup untuk raafflesia jenis bengkuluensis. Terdapat satu bonggol rafflesia jenis bengkuluensis sudah memasuki fase perigon diperkirakan akan mekar bebrapa minggu kedepan.
Salam Lestari !!!
KPPGPPL Kab. Kaur
Selasa, 10 Februari 2015
Bunga Rafflesia Bengkulu Diperkenalkan Melalui Tarian
'' Idupku Cumo Sekali Sajo, Idak Beanak, Idak Bedaun, Kenapo Aku Hanya Idup di Hutan, ataukah Karna Bauku. Walaupun ku Idup di Hutan, Aku dijuluki habitat Puspa Langka, dan diakui dengan semboyan Bumi Kito Rafflesia''.
![]() |
![]() |
| Menyimbolkan Tumbuhnya Bunga Rafflesia |
![]() |
| Menyimbolkan Bunga Rafflesia layu & mati |
![]() |
| Foto: Penari & Penyanyi action Rafflesia |
![]() |
| Foto: Penari & Penyanyi action Rafflesia |
![]() |
| Foto: Dwi Rahayu Fatma Reika action Rafflesia mekar |
![]() |
| Foto: Crew yang terlibat di belakang panggung |
Inilah Orang-orang yang terlibat dalam pementasan "Bungo Rafflesia" :
Lebih lanjut Ia sangat mengharapkan kepada semua kalangan, agar Puspa Langka tersebut tidak dipandang sebelah mata. "Bunga Rafflesia bukanlah Bunga Bangkai, dan Puspa Langka harus dilestarikan, dijaga, bukan untuk dimusnahkan''. Tutupnya
Posting by : KPPGPPL, 10 Februari 2015
Narasumber : Dwi Rahayu Fatma Reika
Sabtu, 07 Februari 2015
Satu Bonggol Rafflesia arnoldii Siap Mekar
Satu bonggol Rafflesia jenis arnoldii siapberada di jetibggi mekar satu minggu mendatang di desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur -Bengkulu. Bonggol ini sudah memasuki fase perigon sempurna dalam arti 1 - 14 hari bonggol ini akan mekar.
Dalam lokasi di Kawasan Hutan Sakaian Mayan desa Manau Sembilan ini, menyisakan 7 bonggol lagi. 4 bonggol/kuncup rafflesia dalam fase kopula berada di ketinggian sekitar 5 meter, 1 bonggol masih dalam fase brakta diketinggiab 70 cm dan 1 bonggolnya lagi diketinggian 4 cm diatas permukaan tanah.
Sementara itu, bonggol/kuncup rafflesia yang siap mekar ini posisinya diketinggian 2 meter kebih.
Salam Lestari !
Jumat, 06 Februari 2015
Rafflesia arnoldii Mekar Ketinggian 2 Meter
Bunga Rafflesia yang merupakan salah satu tumbuhan unik dan sekaligus menyimpan misteri bagi ilmu tumbuh-tumbuhan kembali mekar di hutan kawasan Sakaian Mayan Desa Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kab. Kaur - Bengkulu, Minggu, 1 Februari 2015.
Rafflesia arnoldii mekar kelopak 5 berada di ketinggian 2 meter dari permukaan tanah, diameternya bunganya bekisar antara 65 - 70 cm.
Kuncup Rafflesia di ketinggian sangat jarang dijumpai oleh karena itu bisa dibilang istimewa. Biasanya kuncup bunga menggantung ini jika mekar akan berukuran lebih kecil dan berlangsung lebih singkat.
Salam Lestari !
"Bengkulu The Land Of Rafflesia"
September 2015, Bengkulu Tuan Rumah Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus 2015
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia akan menggelar acara Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus 2015 di Bengkulu.
“International Symposium on Indonesian Giant Flowers Rafflesia & Amorphophallus 2015” adalah forum internasional yang didedikasikan kepada dua flora raksasa Indonesia yang langka Rafflesia dan Amorphophallus .
Tujuan dari penyelengaraan ini adalah :
- Mengekspose dan mempromosikan R. arnoldii dan A. titanum flora langka asal Bengkulu di tingkat nasional & internasional
melalui kegiatan Symposium Internasional.
- Mengidentifikasi berbagai penelitian yang sudah dilakukan terhadap kedua flora tersebut dan membangun jejaring nasional dan internasional bagi kelestarian R. arnoldi dan A. titanum khususnya dan keanekaragaman hayati Bengkulu pada umumnya.
- Menyusun strategi dan rencana aksi konservasi R.arnoldii dan A. titanum melalui komunikasi interdisipliner dan lintas sektoral antara lembaga pemerintah, swasta maupun LSM.
Thema makalah difokuskan kepada salah satu atau 2 aspek berikut ini :
Sub-thema 1: Studi Biologi Rafflesia atau Amorpophallus. Seberapa jauh hingga abad ke-21 ini kita mengenal kedua genera ini :
Contoh subjek : Taksonomy – Phylogeny – bank biji –biology- anatomy
Sub-thema 2: Manajemen konservasi Rafflesia & Amorpophallus : Seberapa jauh kita sudah menerapkan pengetahuan, maupun hasil-hasil penelitian untuk mendukung kelestarian kedua jenis flora dari kehancuran habitatnya
Contoh subjek: konservasi exsitu atau koleksi - manajemen konservasi – edukasi public-legislasi bagi perlindungan kedua flora.
Makalah dikirimkan ke giantflowersindonesia@gmail.com paling lambat tanggal 15 Agustus 2015.
Acara ini akan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 14-17 September 2015 dengan program-program sbb:
Hari 1:
1. Pembukaan
2. Sessi Plenary
- Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia
- International Association of Botanic Gardens
1. Keynote Speaker:
- Direktur Jendral PHKA
- Charles Davis (Harvard University- USA)
- Peter Boyce ( Institute of Biodiversity and Environment Conservation Sarawak -Malaysia)
3. Presentasi Paralel (Makalah terpilih):
1. Makalah ilmiah berthema kajian biologi Rafflesia and Amorphophallus
2. Makalah ilmiah berthema kajian manajemen konservasi Rafflesia & Amorphophallus:
4. Sessi poster (Rafflesia, Amorpophallus dan kerabat nya)
Hari 2 :
Ekskursi ke habitat Rafflesia dan Amorphophallus and city tours
Hari 3 :
Workshop
a. Resume dari berbagai kajian Rafflesia and Amorphophallus
b. Action plan (Penyusunan Rencana aksi ) Rafflesia & Amorphophallus:
c. Deklarasi
Lomba foto berthema flora raksasa Indonesia akan digelar pula selama symposium berlangsung dan terbuka untuk diikuti oleh peserta umum yang memiliki foto Amorphophallus atau Rafflesia selama 10 tahun terakhir. Setiap peserta boleh mengumpulkan 2 foto terbaiknya dalam format JPG ukuran 2 MB/300 dpi.
Foto Dikirimkan ke giantflowersindonesia@gmail.com Foto-foto terbaik akan didisplay pada acara symposium dan hadiah akan diberikan kepada 5 pemenang utama. Paling lambat dikumpulkan 5 Agustus 2015.
Dikutip dari : www.krbogor.lipi.go.id/id/isirow/isi_statis/2
Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) "Sofian Ramadhan" sangat menyayangkan dalam acara tersebut tidak menampilkan Peneliti Rafflesia dari Indonesia sebagai keynote speaker melainkan Peneliti dari negara lain. Padahal Kita Tuan Rumah (Indonesia), dan Peneliti Rafflesia Indonesia (Bengkulu).
"Menurut saya secara pribadi peneliti Indonesia (Bengkulu) tak kalah hebatnya dengan peneliti dari negara lain".*Ungkapnya.
Selain itu, Sofian mengungkapkan Bengkulu harus terangkat namanya lewat event internasional ini bukan malah LIPI yg lebih menonjol atau yang lainnya. Bengkulu harus mendapatkan keuntungan dari event ini bukan malah merugi lewat dana yang dianggarkan cukup lumayan besar tersebut.
Lebih lanjut, kata Sofian sampai sejauh ini Pemerintah Daerah belum memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan kawasan habitat Rafflesia dan Amorphophallus yang terdapat dibeberapa titik di kabupaten di provinsi Bengkulu.
"Semoga acara ini nantinya dapat berjalan lancar dan sukses seperti yang kita harapkan bersama, amin ... Salam Lestari".Tutupnya.










