Tampilkan postingan dengan label Puspa Langka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puspa Langka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

Habitat tiga jenis rafflesia Bengkulu teridentifikasi

Bengkulu (Antara) - Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu berhasil mengindentifikasi habitat tiga jenis bunga rafflesia yang tumbuh di hutan wilayah itu yakni Rafflesia arnoldii, Rafflesia bengkuluensis, dan Rafflesia gadutensis.

"Masih ada satu jenis lagi yang hidup di hutan Bengkulu tapi belum kami temukan yaitu Rafflesia hasselti," kata Koordinator KPPL Bengkulu Sofian Ramadhan di Bengkulu, Rabu.

Ia mengatakan selama ini KPPL telah menggelar ekspedisi habitat rafflesia ke sejumlah kawasan hutan dan terakhir digelar di kawasan Hutan Lindung Boven Lais yang masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara.

Untuk wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah yakni Cagar Alam Taba Penanjung dan Kabupaten Kepahiang, terutama di Hutan Lindung Bukit Daun diidentifikasi sebagai habitat rafflesia jenis arnoldii.

Dari 27 spesies bunga rafflesia, jenis Rafflesia arnoldii merupakan yang pertama kali diidentifikasi. Thomas Stamford Raffles dan Dr Josep Arnold yang mengidentifikasi jenis tersebut pada 1818 di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu.

"Jenis arnoldii memiliki diameter paling besar, pernah kami temukan sampai 120 centimeter," katanya.

Sedangkan kawasan hutan di wilayah Padang Guci Kabupaten Kaur, teridentifikasi sebagai habitat kunci rafflesia jenis bengkuluensis.

Jenis ini memakai nama epithat "Bengkuluensis" untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini didiskripsikan.

Rafflesia bengkuluensis pertama kali dideskripsikan oleh Agus Susatya yang merupakan dosen Program Studi Kehutanan Universitas Bengkulu dan dua rekannya dari Malaysia, yakni Arianto dan Mat Salleh pada 2005 di Desa Talang Tais Kabupaten Kaur.

Sedangkan Rafflesia gadutensis baru saja ditemukan mekar di kawasan Hutan Lindung Boven Lais di Kabupaten Bengkulu Utara.
Rafflesia Jenis Gadutensis Foto KPPL
Pakar rafflesia dari Universitas Bengkulu, Agus Susatya mengatakan jenis rafflesia yang mekar di HL Boven Lais tersebut terverifikasi sebagai jenis gadutensis.

"Sebelumnya diduga jenis arnoldii tapi ada perbedaan warna, ukuran, bercak dan ramentanya ternyata jenis gadutensis," katanya.

Rafflesia gadutensis, ditemukan oleh W. Meijer pada 1984 di kawasan Ulu Gadut, Sumatera Barat.

Seperti jenis rafflesia lainnya, bunga ini tumbuh pada inangnya, liana merambat yakni tetrastigma lanceolarium, yang termasuk keluarga vitaceae.

Tiga lokasi bunga tersebut dipantau secara aktif dan swadaya oleh masyarakat antara lain Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok di Kepahiang, Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka di Kabupaten Kaur dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu Utara di Kabupaten Bengkulu Utara.

Jumat, 20 Maret 2015

Bunga Bangkai ( Amorphophallus Titanum) Mekar di Kab. Kaur

Bunga bangkai ini dipergoki warga Padang Guci Hulu beberapa hari yang lalu sedang mekar disekitar wilayah perkebunan Cancap Padang Guci Hulu Kab.Kaur.

Bagi warga Padang Guci Bunga ini dikenal dengan sebutan Bunge Keghubut. Info & Foto by Teddy Cepak (KPPGPPL)

Amorphophallus titanum atau Titan Arum atau biasa disebut Bunga Bangkai merupakan tumbuhan asli Sumatera yang terkenal memiliki kelopak raksasa serta bau tak sedap layaknya daging busuk.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar.

Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri.

Sabtu, 07 Maret 2015

Ditemukan Satu Rafflesia Sedang Mekar di Padang Guci Kab. Kaur

Satu kuntum Rafflesia jenis bengkuluensis ditemukan sedang mekar harini (7 Maret 2015) di Padang Guci Hulu Kab. Kaur. Awalnya Rafflesia ini diketahui berdasarkan laporan masyarakat kepada KPPGPPL yang berkebun disekitar area itu.

Rafflesia ini mekar diameter 52 cm dengan kondisi kelopak terjepit diantara akar-akar liar yg ada dilokasi, sehingga menyebabkan bunga tidak bisa mekar sempurna. Di dalam lokasi juga ditemukan satu bonggol/kuncup Rafflesia bengkuluensis yang masih berukuran kecil juga tanaman inang (Tetrastigma) berukuran jempol kaki menjalar kedalam tanah.

Lokasi Rafflesia mekar tepatnya berada di sekitar area Perkebunan Lipih  di pinggir Sungai Cawang Kidau desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur atau berada di jarak sekitar 2 kilometer arah utara Habitat Rafflesia bengkuluensis di Sungai Penangkulan.

Sementara itu di lokasi habitat Rafflesia bengkuluensis di Kawasan Hutan Sungai Penangkulan Padang Guci Hulu, saat ini terdapat satu bonggol Rafflesia bengkuluensis siap mekar dalam kurun waktu 4 hingga 7 hari lagi, kondisi bonggol sudah memasuki fase perigon sempurna. Data ini didapat berdasarkan peninjauan rutin yang dilakukan oleh KPPGPPL pada hari Juma't, 6 Maret 2015.

Salam Lestari!
Bengkulu The Land Of Rafflesia!

Minggu, 22 Februari 2015

Hampir Layu..! Rafflesia arnoldii mekar di Padang Guci, Kab. Kaur

Satu kuntum rafflesia jenis arnoldii mekar dengan diametar 65 cm di dalam kawasan Sakaian Mayan, Manau Sembilan, Padang Guci Hulu, Kab. Kaur.

Posisi bunga yang mekar berada di ketinggian 2 meter dari permukaan tanah, warna bunga sudah mulai berwarna kecoklatan, dan  diduga rafflesia ini mekar tak sempurna pada dua hari yang lalu karena terlihat  dua helai perigon gagal membuka sehingga menutupi bagian tabung bunga rafflesia.

Sebelumnya (17/2/2015) , KPPGPPL memprediksi bahwa bunga ini akan mekar sempurna pada harini (22/2/2015). Namun, kembali tidak sesuai apa yang diharapkan, bunga rafflesia sudah memsuki fase layu/mati. Prosesnya layunya bunga lebih cepat seperti yang diketahui bahwa Bunga Rafflesia jika mekar sempurna bisa bertahan 5 sampai 7 hari, dan kemudian layu/mati.

Hal ini bisa saja terjadi karna pengaruh Iklim/cuaca yang terlalu dingin, dan juga bisa disebabkan karena posisi bonggol/kuncup berada diketinggian sehingga mempercepat proses mekar dan layunya/mati bunga rafflesia.

Dilokasi saat ini terdapat 6 bonggol/kuncup rafflesia jenis arnoldii, dan 8 bonggol/kuncup untuk raafflesia jenis bengkuluensis. Terdapat satu bonggol rafflesia jenis bengkuluensis sudah memasuki fase perigon diperkirakan akan mekar bebrapa minggu kedepan.

Salam Lestari !!!
KPPGPPL Kab. Kaur

Selasa, 17 Februari 2015

3 Hari Lagi, Satu Rafflesia Mekar di Kaur

Tiga hari mendatang satu bonggol Rafflesia jenis arnoldii yang berada di hutan Sakaian Mayan, Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur siap mekar.

Seminggu sebelumnya bonggol ini telah diprediksi KPPGPPL, namun belum juga mekar. Saat peninjaun kembali dilakukan (17/2/15), terlihat helai perigon sudah mulai mengangkat ( 5 cm), kuat dugaan bahwa bonggol ini akan mekar beberapa hari lagi, dan akan mekar sempurna pada hari Minggu, 22 Februari 2015. Posisi bonggol menempel pada inang (tetrastigma) yang menjalar di ketinggian pohon 2 meter dari permukaan tanah. Sehingga jika mekar, bunga ini akan terlihat istimewa & sangat menarik karena jarang-jarang rafflesia ditemukan mekar pada ketinggian.

Bunga Rafflesia sungguh unik, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mekar. Untuk mencapai bunga mekar, dari fase Kopula bisa sampai 9 bulan atau lebih dan jika sudah mekar hanya bertahan 5 hingga 7 hari, kemudian bunga Rafflesia layu/mati.

Lebih unik lagi, kita tidak bisa menentukan dengan tepat kapan bunga Rafflesia akan mekar. Namun bisa diperkirakan dengan mengacu  pada kondisi fisik atau iklim.

Salam Lestari !

Senin, 16 Februari 2015

Cerita Perjalanan Tim Info Pusaka Menyaksikan Rafflesia Padang Guci

Berawal dari liputan Ground Breaking PLTM Padang Guci I, Beberapa bulan yang lalu di tahun 2014, salah seorang rekan kami jurnalis Info Pusaka bertemu dengan koordinator KOMPALA / KPPGPPL (Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka). Dari percakapan keduanya, didapatlah info bahwasanya di hutan Manau IX, Kecamatan Padang Guci Hulu ditemukan habitat Bunga Raflesia Bengkuluensis.

Foto: Tim Info Pusaka Kab. Kaur
Waktu pun terus berlalu, tepatnya pada hari rabu tanggal 21 Januari 2014 kami sepakat untuk mengunjungi habitat bunga raflesia di Manau IX, Padang Guci Hulu. Tentu saja janji untuk melakukan liputan telah kami sepakati dari hari-hari sebelumnya. Dengan menggunakan transportasi roda empat yang merupakan fasliltas dari kantor Dinas Perhubungan Kumunikasi dan Informatika untuk kami melakukan liputan ke daerah yang jauh dari jankauan, kami menuju ke desa Manau IX Kec. Padang Guci Hulu.

Lebih kurang 1 jam perjalanan kami lalui dari kota Bintuhan menuju Padang Guci Hulu. Tepat jam 11 siang, kami yang beranggotakan 6 orang dari kota Bintuhan disambut dengan ramah oleh teman-teman dari Kompala/KPPGPPL. Sembari meregangkan kaki, merebahkan pinggang kami juga menunggu teman-teman dari TVRI yang juga akan melakukan peliputan berita tentang habitat bunga raflesia.

Foto: Tim Info Pusaka  tiba di Manau IX. 2
Satu jam berlalu, yang kami tunggu belum kunjung menampakkan wujudnya. Mulai terasa riak diantara kawan-kawan KPPGPPL, ada  yang berpendapat untuk meninggalkan rombongan TVRI, ada juga pendapat untuk menunggu, ada juga opsi agar 1 orang dari KPPGPPL menunggu tim TVRI sedangkan yang lainnya berangkat menuju lokasi habitat raflesia. Suasana yang sempat memanas, akhirnya ditengahi oleh ketua KPPGPPL Noprianto. Nop, biasa ia disapa mengambil langkah tengah yang diamini oleh anggota lainnya. "Kita tunggu sampai jam 1 siang, kalo mereka belum sampai juga, kita tinggalkan", ujar Nop.

Sambil menunggu, kami disuguhkan rekaman video perjalanan Tim KPPGPPL bersama pengunjung yang ingin melihat bunga raflesia. Dari sini kami mengetahui medan yang akan ditempuh ternyata tidaklah mudah dan cukup menantang. Disampaikan juga kepada kami, bahsawanya setiap perjalanann wisata ke habitat Bunga Raflesia di Padang Guci Hulu, selalu ada dokumentasi dari tim KPPGPPL baik itu berupa foto bahkan video yang kesemuanya itu tersimpan rapi di arsip perangkat kerja KPPGPPL. Dokumentasi ini sifatnya sukarela, direkam oleh juru dokumentasi KPPGPPL.

"Setiap wisatawan yang memasuki area habitat bunga raflesia tentu saja dengan menghubungi kami (KPPGPPL), maka kami dengan senang hati mendokumentasikan perjalanan wisata bunga raflesia ini", terang Noprianto.

Pada perjalanan kali ini, kami (Tim Info Pusaka) dengan tim dari KPPGPPL berbagi tugas. Kami dari Info Pusaka bertugas mendokumentasikan perjalanan berupa gambar, sedangkan tim dari KPPGPPL memvisualisasikan perjalanan kami.

Tak berselang lama, yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Tim Kontributor dari TVRI Bintuhan tiba dengan beranggotakan 3 orang yang dikomandani oleh sdr. Aprin Taskan Yanto dan dua orang jurnalis perempuan. Mengetahui bahwasanya ada pengunjung perempuan, Nopri memerintahkan anggotanya untuk mengajak anggota KPPGPPL perempuan juga sebagai pendamping. Hal ini dimaksudkan guna menghindari omongan dari luar. Setelah semuanya lengkap (termasuk juga pendamping perempuan dari KPPGPPL) tepat pada pukul 1 siang kami tak kurang dari 20 orang memulai perjalanan menuju habitat bunga raflesia di hutan Manau IX Kec. Padang Guci Hulu.

Perjalanan kami dimulai dengan menyeberangi Sungai Padang Guci. Melintasi jembatan berayun dengan penuh tawa, dan melihat anak-anak kecil mandi tanpa menggunakan pakaian, melompat terjun dari atas jembatan berayun. Keceriaan tampak dari wajahnya, dari tawanya sehingga menarik bagi kami untuk berhenti sesaat dan mendokumentasikannya.

Foto : Kecerian Anak Desa bermain dengan alam
 Setelah melintasi pesawahan warga dan juga perkebunan kopi, kami kembali dihadapkan dengan sungai Cawang Kidau. Kalau di sungai pertama kami melintasi jembatan berayun, kali ini sungai yang cukup deras dengan kedalaman 1 meter harus kami seberangi. Satu per satu kami menyeberangi sungai tersebut. Gelak tawa memuncak tatkala seorang rekan kami dari Bintuhan terpeleset dan hampir terbawa arus.

Foto :menyeberangi sungai Cawang Kidau
Perjalanan kembali dilanjutkan, kami mulai menyulam sungai. Satu persatu anak sungai kami lewati. Saat di pertigaan, pemandu jalan yang bertindak sebagai penunjuk arah mengajak kami untuk langsung ke lokasi habitat Bunga Raflesia Arnoldi. Mengetahui ada perubahan rute, ketua rombongan KPPGPPL Noprianto sedikit berbeda pendapat dengan pemandu arah. Menurut Nop, untuk memudahkan saat pulang nani, perjalanan ini sebaiknya di dahului dengan tujuan Bunga Raflesia Bengkuluensis dan kemudian baru menuju Habitat Raflesia Arnoldi.

"Kita ke habitat raflesia bengkuluensis dahulu, untuk memudahkan perjalanan saat pulang nanti", ujarnya. Perjalanan kembali dilanjutkan. Rasa lelah mulai nampak, terutama bagi kami yang baru pertama kali meninjau lokasi ini.

Kami mulai memasuki hutan Penangkulan, dimana area ini merupakan habitat Bunga Raflesia Bengkuluensis. Langkah kami terhenti, terdengar intruksi dari pemandu jalan agar kami berhati-hati melangkah. "kawan-kawan, sekarang kita sudah memasuki habitat Bunga Raflesia Bengkuluensis, diharapkan untuk hati-hati melangkah karena bisa menginjak Bonggol/Knop Bunga Raflesia", teriak si Pemandu Jalan.

Rasa lelah, capek terbayarkan setelah melihat Bunga Raflesia Bengkuluensis diatas tanah. Semangat mulai bangkit lagi, keceriaan mulai hidup lagi. Secara bergantian kami mengambil gambar Bunga Raflesia Bengkuluensis yang sudah mulai layu. Warna hitam mulai muncul perlahan menggantikan warna merahnya bunga raflesia bengkuluensis. Dua buah kelopaknya sudah patah dan jatuh ke tanah. Menurut Nop, Raflesia Bengkuluensis ini sudah memasuki masa layu setelah mekar kurang lebih selama 4-5 hari.


 "Raflesia ini sudah mekar puncaknya pada hari minggu, tepatnya tiga hari yang lalu. kini diperkirakan mulai layu sejak hari selasa kemarin", terangnya.

Selang beberapa meter dari Bunga Raflesia tersebut, terdapat beberapa Bonggol/Knop yang diperkirakan dua mingguan lagi akan mekar. Setelah puas mengamati, mengambil gambar dan tentu saja bernarsis ria di dengan bunga raflesia di titik pertama, kami melanjutkan perjalanan menuju habitat raflesia di titik kedua.

Berbeda dengan yang ditempat pertama, kali ini kami menemui Bunga Raflesia Bengkuluensis dengan kondisi bertolak belakang. Kalau sebelumnya kami menemukan Raflesia Bengkuluensis yang sudah mulai membusuk, kali ini kami mendapati Bunga Raflesia Bengkuluensis yang hampir mekar sempurna. Warnanya cerah dan masih sangat segar. Satu-satunya penanda kalau bunga ini belum mekar sempurna dimana sebuah kelopaknya masih belum terbuka lebar. Layaknya seseorang sedang merasa malu, Raflesia yang kami temui kali ini seolah-olah sedang menutupi mukanya karena malu.

Foto : Rafflesia bengkuluensis
 "Kalo ini namanya Raflesia Maluensis", canda seorang rekan kami sebagai ungkapan menggambarkan kelopak yang belum mekar. Ini juga jenis Raflesia Bengkuluensis, yang diameternya ketika diukur oleh tim KPPGPPL mencapai 46cm.

Lagi lagi dan lagi, secara bergantian kami mengabadikanya dalam bentuk foto dan video baik itu per kelompok, per individu. Tim KPPGPPL cuma mengingatkan agar tidak sampai menyentuh bunga raflesia. Apabila tersentuh tangan manusia, bunga tersebut akan cepat layu, bagian yang kena sentuhan tangan akan cepat hitam dan membusuk.
 
Tibalah Saat akan foto beramai-ramai, mulai lah tripod beraksi. "Kalau tidak ada tripod, fotografer tidak akan kebagian gambar", celetuk seorang fotografer dari tim Info Pusaka. Kamera di setting di posisi self timer selama 10 detik, saat pencahayaan sudah pas, tombol shutter ditekan dan kemudian fotografer kami mengambil posisi agar ia dapat terekam oleh kamera.

Foto bersama Rafflesia bengkuluensis
Setelah puas berpose di dekat bunga raflesia bengkuluensis, kami mulai bergerak keluar dari hutan Sungai Penangkulan menuju kawasan hutan Sakaian Mayan. Di dalam hutan inilah terdapat habitat Bunga Raflesia Arnoldi. Untuk mencapai area tersebut, kami harus melalui tebing yang sangat curam dengan ketinggian tak kurang dari 50 meter. Secara bergantian kami bahu membahu saling membantu kawan-kawan menaiki tebing ini.

Di tepian tebing ini kami ditunjukkan oleh salah seorang rekan KPPGPPL tumbuhan sejenis talas dengan ukuran raksasa yang merupakan cikal bakal Bunga Bangkai (Amorphophallus Titanium). Sedikit info, Bunga Bangkai itu beda dengan Bunga Raflesia. Orang awam sering salah kaprah menyebut kalau kedua bunga ini sama. Padahal keduanya jelas jelas beda. Bunga Raflesia merupakan jenis parasit sedangkan bunga bangkai termasuk dalam kategori talas.

Tibalah di Hutan Sakaian Mayan, kami mendapati bunga raflesia arnoldi yang sedang mekar dengan sangat indahnya. Bunga ini menempel di pohon dengan ketinggian sekitar 2 meter. Menurut Nopri, yang membedakan Raflesia Arnoldi di Padang Guci dengan di daerah lain misalnya du hutan kepahyang, adalah letak tumbuhnya yang tinggi diatas permukaan tanah. Bilamana di daerah lain, Bunga Raflesia Arnoldi tumbuh di atas permukaan tanah, di hutan padang guci ini, letak tumbuhnya lebih tinggi.

Foto : Rafflesia arnoldii di ketinggian 2 meter
 "Inilah yang membedakan Raflesia Arnoldi Padang Guci dengan yang ada di Kepahyang, letak tumbuhnya yang tinggi, rata-rata diatas 1 meter", terangnya.

Disekitarnya kami mendapati beberapa buah Bonggol/Knop yang masih hidup normal dan ada juga yang telah dirusak tangan-tangan jahil. Hal inilah yang membuat teman-teman KPPGPPL sedih dan bertanya, buat apa merusak bonggol ini. Padahal bila sudah mekar utuh, bentuknya bisa dinikmati bersama. Tidak akan ada yang dirugikan dengan tumbuh kembangnya bunga ini.

Hutan Sakaian Mayan menjadi tujuan terakhir kami. Setelah puas menikmati indahnya Bunga Raflesia Arnoldi, kami pun beranjak dari hutan sakaian mayan kembali ke Base Camp KPPGPPL. Kali ini perjalanan pulang terasa lebih dekat. Karena kami tidak melewati Hutan Sungai Penangkulan lagi.

Tak kurang dari 4 jam perjalanan yang kami tempuh, empat sungai kami sulam dan kami seberangi demi menikmati keindahan Bunga Raflesia. Lelah, letih, terbayar tuntas setelah yang kami rencanakan (melihat bunga Raflesia) tercapai seluruhnya.

Sambil berjalan pulang, kami sempat berbincang dengan Ketua KPPGPPL Noprianto. Tak lupa, Nop juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap tangan-tangan jahil yang sering merusak habitat Bunga Raflesia. "Kejadian ini tidak hanya sekali ini, tapi sudah sering bunga raflesia dirusak oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab", geramnya.

Terbersit cita-cita mulia yang sangat diidamkan oleh kawan-kawan KPPGPPL, yaitu ingin membuat gerbang membentuk replika Bunga Raflesia di atas jembatan gantung Air Padang Guci. Sebagai petanda bahwasanya area ini adalah gerbang untuk memasuki habitat Bunga Raflesia. KPPGPPL sendiri sangat mengharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk sama-sama melestarikan habitat raflesia di tanah Padang Guci. Sehingga cita-cita Bengkulu Land Of Raflesia dapat terwujud. 


SALAM LESTARI...!!!
Sumber : Info Pusaka Kab. Kaur

Jumat, 13 Februari 2015

Rekontruksi Siklus Hidup R. Arnoldii (Susatya, 2007)

Rafflesia arnoldii diperkirakan memerlukan 4,5 sampai 5 tahun untuk menyelesaikan siklus hidupnya (Hidayati dkk.,2000; Susatya, 2007). Lebih lanjut, Nais (2001) menemukan bahwa Rafflesia tengku-adlinii, R. Pricei, dan R. Keithii masing-masing memerlukan 9 - 13 bulan, 10 - 15 bulan, dan 12 - bulan untuk mekar dari fase kopula. Untuk jenis R. rochussenii waktu yang dibutuhkan lebih lama, yaitu rata-rata 27,3 bulan(Zuhud dkk., 1994). Keempat jenis tersebut diperkirakan memerlukan waktu antara 3,5 sampai 5 tahun untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Secara garis besar siklus hidup R. arnoldii dibagi menjadi tiga fase, yakni; Fase Kopula, Fase Brakta, dan Fase Perigon. Siklus hidup terperinci untuk jenis R.arnoldii dapat dilihat di Gambar 36. Rekontruksi siklus hidup R. arnoldii (Susatya, 2007).

Rekontruksi siklus hidup R. arnoldii (Susatya, 2007)

Kuncup R.arnoldii dalam Fase Kopula mempunyai kisaran diameter antara 0,6 sampai 3,3 cm. Fase  Brakta mulai terlihat saat kuncup telah menjadi 3,3 - 4,14 cm, dan untuk mencapai ukuran ini dari Fase Kopula diperlukan waktu antara 33 hari sampai 144 hari. Fase Brakta menjadi struktur yang sempurna menutupi bagian atas kuncup saat mencapai ukuran antara 7,31 - 11,76 cm, atau memerlukan waktu 172 - 257 hari untuk mencapai fase ini dari Fase Kopula. Fase Perigon mulai terlihat saat kuncup mencapai ukuran 12,02-13,96 cm, dan memerlukan waktu 23-66 hari untuk mencapai ukuran ini dari Fase Brakta. Fase Perigon menjadi strukutur yang sempurna saat kuncup mencapai ukuran 21,3 - 22,4 cm, dan fase ini dicapai dalam waktu 100 - 143 hari dari Fase Brakta sempurana, jenis ini mempunyai diameter 22,18 - 26,28 cm dan dalam kondisi siap mekar.

Setelah mekar, bau daging busuk akan tercium dan lalat mulai berdatangan. Setela 2 - 3 hari, bunga akan mekar secara sempurna, dan bersamaan dengan ini bau daging busuk tercium paling kuat. Jumlah lalat paling banyak juga dijumpai dalam kurun ini (Hidayati dkk., 2000). Setelah itu bunga mulai membusuk. Dari bunga mekar sampai busuk dibutuhkan waktu antara 5 sampai 8 hari.

Saat yang tepat bunga akan mekar sangat sulit untuk diperkirakan. Setelah diameter siaap mekar dicapai, maka dalam 1 - 14 hari kuncup akan mekar. Ada dua hal dimana kita dapat memperkirakan kapan bunga akan mekar, yaitu musim dan kenampakan fisik. Secara umum bunga dipicu untuk mekar bila terjadi selang-seling antara kondisi kering dan lembab. Saat musim kemarau, bunga akan mekar pada hari dimana tidak ada hujan atau curah hujan yang sangat rendah (Susatya, 2007). Disamping musim, kenampakan fisik akan sangat penting dalam menentukan kapan bunga akan mekar. biasanya helaian paling atas perigon mulai terangkat maka dalam waktu 1 - 2 hari bunga akan mekar.

Jenis dengan ukuran bunga mekar yang lebih kecil akan mempunyai laju pertumbuhan yang lebih cepat dari pada bunga yang lebih besar. Populasi yang berbeda dari jenis yang sama juga akan mempunyai laju pertumbuhan yang berbeda pula. Untuk jenis yang sama  dan di subpopulasi yan berbeda, bunga yang kecil akan mempunyai laju yang lebih cepat pada fase kopula dan fase brakta. Akan tetapi setelah mencapai ukuran bunga sebelum siap mekar pola laju diatas akan terbalik, dimana bunga yang besar akan mempunyai laju pertumbuhan yang lebih cepat. Informasi-informasi di atas menimbulkan spekulasi bahwa dalam inang berbeda kemungkinan besar kuncup juga mempunyai laju pertumbuhan yang berbeda pula. 

Lebih lanjut, untuk jenis yang sama, ukuran bunga mekar kemungkinan besar ditentukan oleh iklim. Untuk jenis R. arnoldii, ukuran bunga yang paling besar terjadi di Tambang Sawah Kabupaten Lebong-Bengkulu sedangkan di Taba Penanjung - Bengkulu, mempunyai ukura 70 cm. Kedu daerah mempunyai iklim yang sangat berbeda. Tambang Sawah mempunyai suhu minimal yang lebih rendah dan curah hujan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, bole jadi makin rendah suhu dan makun tinggi curah hujan, maka makin besar pula ukuran bunga. 

Sumber Pustaka : Rafflesia Pesona Bunga terbesar di Dunia (@Agus Susatya, 2011).
Semoga Bermanfaat ! Salam Lestari ! Bengkulu The Rand Of Rafflesia ! @KPPGPPL, 2015

Selasa, 10 Februari 2015

Bunga Rafflesia Bengkulu Diperkenalkan Melalui Tarian

Bunga Rafflesia yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu sekaligus merupakan bunga kebanggaan masyarakat Provinsi Bengkulu, diperkenalkan melalui indahanya tarian oleh sejumlah mahasiswa/i yang sedang mengikuti Ujian Penciptaan Koreografi 3 Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. (14 Januari 2015)

Dalam Ujian  Penciptaan Koreografi 3 Jurusan Seni Tari tersebut, ada 21 koreografer, 21 karya yang dipentaskan selama tiga hari berturut-turut. Salah satunya adalah karya "Bungo Rafflesia" yang diciptakan untuk mengenang Budaya Provinsi Bengkulu.

Koreografi "Bungo Rafflesia'' diciptakan oleh Dwi Rahayu Fatma Reika asal Padang Guci, Kab. Kaur Provinsi Bengkulu. Ia mengangkat karya ini didasarkan kecintaannya terhadap kota kelahirannya yaitu Bengkulu.

" Saya menciptakan karya ini untuk memotivasi bahawa Bunga Rafflesia adalah Ikon Budaya Bengkulu''.Ungkapnya

Berikut  Sinopsis "Bungo Rafflesia" yang  ditampilkan pada Ujian Penciptaan Koreografi 3 Jurusan Seni Tari di Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. (14 Januari 2015)  ;  

'' Idupku Cumo Sekali Sajo, Idak Beanak, Idak Bedaun, Kenapo Aku Hanya Idup di Hutan, ataukah Karna Bauku. Walaupun ku Idup di Hutan, Aku dijuluki habitat Puspa Langka, dan diakui dengan semboyan Bumi Kito Rafflesia''.

Berikut dokumentasinya:


Menyimbolkan Tumbuhnya Bunga Rafflesia
Menyimbolkan mekarnya Bunga Rafflesia
Menyimbolkan Bunga Rafflesia sedang mekar
Menyimbolkan Bunga Rafflesia besar & megah
Menyimbolkan Bunga Rafflesia layu & mati
Foto: Penari & Penyanyi  action Rafflesia
Foto: Penari & Penyanyi  action Rafflesia
Foto: Dwi Rahayu Fatma Reika action Rafflesia mekar
Foto: Crew yang terlibat di belakang panggung

Inilah Orang-orang yang terlibat dalam pementasan "Bungo Rafflesia" :
1.   Penyanyi : Katy Febrian Pangaribuan & Destia Fitriani
2.   Koreografer : Dwi Rahayu Fatma Reika
3.   Kompuser : Merliando, S.Sn
4.   Stage Manager : Rafi Arafat
5.   Artistik : Mas Cahyo
6.  Penari : Ira Puspita Sari. S.Sn, Erin Kartika, S.Pd, Reni Destriani, Dwi Rahayu Fatma Reika, Sismania Sita, Lucky Ilva Jazanurya, dan Nurul Saputri,
7.   Crew : Tim Pelangi, & Keluarga 7321 (Tujuh Karya, Tiga Hari, Dua Puluh Satu Koreografer)
8.   Konsumsi : Noor
9.   Rias Busana : Ika Mutiara, & Wulan
10. Kostum : Dati Salon
11. Dokumentasi : Bukan Dua Titik oleh Bowo Sukari, S.Sn
12. Penata Lighting : Megumi Teater

Tim Pendukung :
1.   Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bengkulu
2.   Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu
3.   Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kaur
4.   Dinas Pariwisata, dan Pemuda Olahraga Kabupaten Kaur
5.   Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Bengkulu Yogyakarta (IKPM BY)
6.   Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Bengkulu Selatan Yogyakarta
7.   Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Kaur Yogyakarta
8.   Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL/Kompala) Kaur
9.   Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia (IKPM DI)

Lebih lanjut Ia sangat mengharapkan kepada semua kalangan, agar Puspa Langka tersebut tidak dipandang sebelah mata. "Bunga Rafflesia bukanlah Bunga Bangkai, dan Puspa Langka harus dilestarikan, dijaga, bukan untuk dimusnahkan''. Tutupnya

Posting by : KPPGPPL, 10 Februari 2015
Narasumber : Dwi Rahayu Fatma Reika

Sabtu, 07 Februari 2015

Rafflesia bengkuluensis

Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis baru dari Indonesia, setelah 20 lebih jenis terakhir ditemukan di Indonesia. Jenis ini lama dianggap sebagai Rafflesia arboldii dari Talang Tais, Kabupaten Kaur. Jenis ini memakai nama epithat "Bengkuluensis" untuk menghormati Bengkulu sebagai lokasi pertama kali jenis ini didiskripsikan. Jenis ini pertama kali didiskripsikan oleh Agus Susatya dosen dari Universitas Bengkulu bersama 2 rekanya dari Malaysia, yakni Arianto dan et Mat - Salleh di desa Talang Tais Kabupaten Kaur pada tahun 2005.

Rafflesia bengkuluensis berukuran medium ( diameter bunga 50-55 cm ) dengan helai perigon berukuran 15-19 cm. Helai perigon berwarna orange tua atau merah bata, dengan bercak berwarna orange muda dan berukuran panjang 9 mm dan lebar 4-6 mm. Diaphragma mempunyai lebar 16,2-18,6 cm, dengan lubangnya berdiameter 10,6-10,1 cm, bintik dipernukaan diaphragma berwarna orange muda, bulat, dan tidak membentuk lingkaran. Jendela mempunyai lebar 5-6 cm, dan terdiri dari bercak bulat berwarna putih yang membentuk 6-7 lingkaran yang terputus-putus. Bercak kadang-kadang saling bersinggungan dekat pinggir lubang diaphragma.

Rafflesia bengkuluensis
Rafflesia bengkuluensis
Cakram mempunyai diameter 10.7 cm dan berwarna oranye muda yang berubah menjadi coklat dengan berjalannya waktu, sedangkan gigir cakram berwarna orange tua. Prosesi ada 25 buah tersusun dan membentuk 3 lingkaran, dimana lingkaran luar, tengah dan dalam masing-masing mempunyai 14,8 dan 3 prosesi. Prosesi mempunyai warna orange tua pada ujungnya dan berangsur-angsur mempunyai warna yang lebih muda kearah dasarnya. Prosesi mempunyai lebar 5-15 mm di dasar dan tinggi 10-20 mm. Ada tiga tipe prosesi yaitu; kerucut sederhana, kerucut berbelah, kerucut pipih dan berduri.

Secara morfologi Rafflesia bengkuluensis sangat berbeda dengan Rafflesia arnoldii, Jenis ini mempunyai tipe ramenta tubercle sedangkan R. arnoldii mempunyai tipe filiform. Rafflesia bengkuluensis mempunyai kemiripan kenampakan luar dan struktur ramenta dengan R. patma, R. zollingeriana, dan R. speciosa. Keempat jenis tersebut mempunyai ramenta tipe tubercle, dan dapat dibedakan berdasarkan sebaran ramenta. Inang Rafflesia bengkuluensis adalah T. tuberculatum.

Rafflesia bengkuluensis ditemukan dihutan sekunder muda dengan vegetasi yang tersusun dari vegesi hutan sekunder dan kebun yang ditinggalkan. Jenis tumbuhan yang dominan adalah Artocarpus elasticus, Archidendron jiringa, Rinoria anguifera, Cleistanthus sumatranus, Pterospernum javanicum, Ficus variegata, Erythrina variegata, Rhodamnia cinerea, Vitex pinnata, dan Alstonia angustiloba.

Rafflesia bengkuluensis mempunyai sebaran geografis terbatas yang terletak sebelah barat laut Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, yaitu Lembah Talang Tais Kelam Tengah Kabupaten Kaur, Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur, dan Desa Gunung Tiga Semidang Gumay Kabupaten Kaur. Dalam wilayah ini curah hujan maksimal dapat mencapai 524,8 mm perbulan pada Bulan November dan Desember, sedangkan curah hujan minimal 141, 5 mm (Pemda Bengkulu Selatan,2002).

Sumber: 
Diringkas dari Buku Rafflesia Pesona Bunga Terbesar di Dunia ©Agus Susatya 2011

Jumat, 06 Februari 2015

Rafflesia arnoldii Mekar Ketinggian 2 Meter

Bunga Rafflesia yang merupakan salah satu tumbuhan unik dan sekaligus menyimpan misteri bagi ilmu tumbuh-tumbuhan kembali mekar di hutan kawasan Sakaian Mayan Desa Manau Sembilan Padang Guci Hulu Kab. Kaur - Bengkulu, Minggu, 1 Februari 2015.

Rafflesia arnoldii mekar kelopak 5 berada di ketinggian 2 meter dari permukaan tanah, diameternya bunganya bekisar antara 65 - 70 cm.

Kuncup Rafflesia di ketinggian sangat jarang dijumpai oleh karena itu bisa dibilang istimewa. Biasanya kuncup bunga menggantung ini jika mekar akan berukuran lebih kecil dan berlangsung lebih singkat.

Salam Lestari !
"Bengkulu The Land Of Rafflesia"

September 2015, Bengkulu Tuan Rumah Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus 2015

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia akan menggelar acara Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus 2015 di Bengkulu.

“International Symposium on Indonesian Giant Flowers Rafflesia & Amorphophallus 2015” adalah forum internasional yang didedikasikan kepada dua flora raksasa  Indonesia yang langka Rafflesia dan Amorphophallus .

Tujuan dari penyelengaraan ini adalah :

- Mengekspose dan mempromosikan R. arnoldii dan A. titanum flora langka asal Bengkulu di tingkat nasional & internasional
melalui kegiatan Symposium Internasional.

- Mengidentifikasi berbagai penelitian yang sudah dilakukan terhadap kedua flora tersebut dan membangun jejaring nasional dan internasional bagi kelestarian R. arnoldi dan A. titanum khususnya dan keanekaragaman hayati Bengkulu pada umumnya.

- Menyusun strategi dan rencana aksi konservasi R.arnoldii dan A. titanum melalui komunikasi interdisipliner dan lintas sektoral antara lembaga pemerintah, swasta maupun LSM.

Thema makalah difokuskan kepada salah satu atau 2 aspek berikut ini :

Sub-thema 1: Studi Biologi Rafflesia atau Amorpophallus. Seberapa jauh hingga abad ke-21 ini kita mengenal kedua genera ini :
Contoh subjek : Taksonomy – Phylogeny – bank biji –biology- anatomy

Sub-thema 2: Manajemen konservasi Rafflesia & Amorpophallus : Seberapa jauh kita sudah menerapkan pengetahuan, maupun hasil-hasil penelitian untuk mendukung kelestarian kedua jenis flora dari kehancuran habitatnya
Contoh subjek: konservasi exsitu atau koleksi - manajemen konservasi – edukasi public-legislasi bagi perlindungan kedua flora.

Makalah dikirimkan ke giantflowersindonesia@gmail.com paling lambat tanggal 15 Agustus 2015.

Acara ini akan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 14-17 September 2015 dengan program-program sbb:

Hari 1:
1. Pembukaan
2. Sessi Plenary
- Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia
- International Association of Botanic Gardens

1. Keynote Speaker:
- Direktur Jendral PHKA
- Charles Davis (Harvard University- USA)
- Peter Boyce ( Institute of Biodiversity and Environment Conservation Sarawak -Malaysia)

3. Presentasi Paralel (Makalah terpilih):

1. Makalah ilmiah berthema kajian biologi Rafflesia and Amorphophallus
2. Makalah ilmiah berthema kajian manajemen konservasi Rafflesia & Amorphophallus:

4. Sessi poster (Rafflesia, Amorpophallus dan kerabat nya)

Hari 2 :
Ekskursi ke habitat Rafflesia dan Amorphophallus and city tours

Hari 3 :
Workshop
a. Resume dari berbagai kajian Rafflesia and Amorphophallus
b. Action plan (Penyusunan Rencana aksi ) Rafflesia & Amorphophallus:
c. Deklarasi

Lomba foto berthema flora raksasa Indonesia akan digelar pula selama symposium berlangsung dan terbuka untuk diikuti oleh peserta umum yang memiliki foto Amorphophallus atau Rafflesia selama 10 tahun terakhir. Setiap peserta boleh mengumpulkan 2 foto terbaiknya dalam format JPG ukuran 2 MB/300 dpi.

Foto Dikirimkan ke giantflowersindonesia@gmail.com Foto-foto terbaik akan didisplay pada acara symposium dan hadiah akan diberikan kepada 5 pemenang utama. Paling lambat dikumpulkan 5 Agustus 2015.

Dikutip dari : www.krbogor.lipi.go.id/id/isirow/isi_statis/2

Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) "Sofian Ramadhan" sangat menyayangkan dalam acara tersebut tidak menampilkan Peneliti Rafflesia dari Indonesia sebagai keynote speaker melainkan Peneliti dari negara lain. Padahal Kita Tuan Rumah (Indonesia),  dan Peneliti Rafflesia Indonesia (Bengkulu).

"Menurut saya secara pribadi peneliti Indonesia (Bengkulu) tak kalah hebatnya dengan peneliti dari negara lain".*Ungkapnya.

Selain itu, Sofian mengungkapkan Bengkulu harus terangkat namanya lewat event internasional ini bukan malah LIPI yg lebih menonjol atau yang lainnya. Bengkulu harus mendapatkan keuntungan dari event ini bukan malah merugi lewat dana yang dianggarkan cukup lumayan besar tersebut.

Lebih lanjut, kata Sofian sampai sejauh ini Pemerintah Daerah belum memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan kawasan habitat Rafflesia dan Amorphophallus yang terdapat dibeberapa titik di kabupaten di provinsi Bengkulu.

"Semoga acara ini nantinya dapat berjalan lancar dan sukses seperti yang kita harapkan bersama, amin ... Salam Lestari".Tutupnya.

Rabu, 04 Februari 2015

Januari 2015, Empat Rafflesia Mekar di Kaur

Tercatat oleh Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL) Kab. Kaur, sudah empat Rafflesia yang mekar di Kabupaten Kaur - Bengkulu. Dari ke empat bunga rafflesia tersebut, tiga merupakan rafflesia jenis bengkuluensis dan satu rafflesia jenis arnoldii.

Berikut data rafflesia mekar di Kabupaten Kaur pada Januari 2015 :

1. Rafflesia bengkuluensis mekar kelopak 5 diameter 36 cm pada tanggal 18 Januari 2015, di hutan kawasan Sungai Penangkulan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur - Bengkulu. Foto by Nopri Anto KPPGPPL


2. Rafflesia arnoldii mekar kelopak 5 dengan posisi menggantung diketinggian 2 meter, diameter bunga 70 cm pada tanggal 18 Januari 2015, di hutan kawasan Sakaian Mayan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur - Bengkulu. Foto by Erman Suhendri;


3. Rafflesia bengkuluensis mekar 5 kelopak diameter antara 45 - 46 cm pada tanggal 20 Januari 2015 di Kawasan Hutan Air Mas Trans Karang Dapo Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur - Bengkulu. foto by @Buldhany;


4. Rafflesia bengkuluensis mekar kelopak 5 diameter 46 cm pada tanggal 21 Januari 2015 di hutan kawasan Sungai Penangkulan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur - Bengkulu. Foto by Nopri Anto KPPGPPL;


Demikianlah data rafflesia mekar pada bulan Januari 2015 di Kabupaten Kaur Propinsi Bengkulu.
Salam Lestari ! Bengkulu The Land Of Rafflesia

Kamis, 08 Januari 2015

Tiga Rafflesia Siap Mekar Bulan Januari 2015 di Kaur

Bonggol Rafflesia bengkuluensis Fase Perigon deameter 19-21 cm | Foto : KPPGPPL 8/1/2015
Satu minggu sebelumnya kami memperdiksi 2 bonggol rafflesia akan mekar di Kab. Kaur, yakni; satu bonggol rafflesia bengkuluensis berada dalam kawasan Sungai Penangkulan, dan satu bonggol rafflesia arnoldii berada dalam kawasan Sakaian Mayan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur. 

Bonggol Rafflesia arnoldii Fase Perigon deameter 23-25 cm | Foto : KPPGPPL 8/1/2015
Namun, setelah satu minggu (8/1/2015) kami kembali tinjau lokasi, ternyata dugaan kami belum tepat kedua bonggol Rafflesia tersebut belum juga mekar. Kami kembali memprediksi bahwa ke dua bonggol ini akan benar-benar mekar satu minggu kedepan, karena kedua bonggol tersebut sudah memasuki fase perigon sempurna (Kondisi Siap Mekar). Fase  Perigon Sempurna hingga Bunga Mekar dibutuhkan 1 - 14 hari @Agus Susatya

Satu lokasi berbeda di dalam kawasan Air Mas Tran Desa Karang Dapo Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur, juga terdapat satu bonggol rafflesia sudah memasuki fase perigon sempurna, artinya dalam kurun 1-14 hari lagi juga akan mekar.

Bonggol Rafflesia Fase Perigon lokasi Hutan Kawasan Air Mas | Foto : Feily Asmara 5/1/2015
Selain memprediksi kapan waktu bunga mekar tersebut, kami lanjut dengan mendata keadaan bonggol yang ada di lokasi. Kami kembali dikejutkan setelah satu minggu sebelumnya kami menemui 2 bonggol yang sengaja kulit arinya/fase brakta (Br)-perigon dilepas. Kali ini 3 bonggol dalam fase brakta sengaja di copot/lepas oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab di lokasi yang sama dalam kawasan hutan Sakaian Mayan desa Manau Sembilan Kec. Padang Guci Hulu Kab. Kaur.

2 bonggol rafflesia arnoldii masih utuh tanggal 1/1/2015, sudah tiada tanggal 8/1/2015

1 bonggol rafflesia arnoldii masih utuh tanggal 1/1/2015, sudah tiada tanggal 8/1/2015
Dengan demikian, saat ini menyisakan 22 bonggol, yakni; 10 bonggol untuk Rafflesia bengkuluensis dalam dua titik di lokasi Sungai Penangkulan, dan 12 bonggol rafflesia arnoldii dalam kawasan hutan Sakayan Mayan.


Salam Lestari !!

Jumat, 19 Desember 2014

Jelajah Rafflesia Di Kawasan Hutan Air Mas Semidang Gumay Kabupaten Kaur

Berawal dari informasi yang KPPGPPL peroleh dari harian umum Radar Kaur, KPPGPPL harini (Juma't, 19/12/2014) langsung mendatangi lokasi Rafflesia yang berada di kawasan hutan perkebunan Air Mas desa Karang Dapo Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur.

Pertama, KPPGPPL menemui Buldhany seseorang yang menemukan bunga Rafflesia dikawasan tersebut. Buldhany adalah warga desa Gunung Tiga Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur. Desa ini sangat mudah dicapai karena hanya berjarak 1 kilo dari Jalan Lintas - Bengkulu - Lampung.

Untuk mencapai lokasi rafflesia pun nyaris tak ada hambatan apapun, alias sangat mudah. Dari desa Gunung Tiga hingga kekebun warga, bisa menggunakan kendaraan roda dua hanya dibutuhkan lebih kurang 18 menit. Kemudian dilanjutkan dengan aktivitas tracking (penjelajahan), menelesuri kebun karet/sawit warga, naik/turun tebing, hingga masuk kedalam hutan dengan menenelusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Jarak antara kebun warga dengan lokasi Rafflesia lebih kurang 200 meter.

Menuruni tebing awal masuk lokasi rafflesia di kawasan hutan Air Mas
Menelusuri jalan setapak dalam kawasan hutan Air Mas
Lokasi tepatnya berada di kawasan hutan perkebunan Air Mas Trans desa Karang Dapo Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur Provinsi Bengkulu. Dalam kawasan hutan ini terdapat dua titik habitat Raflesia.

Dilokasi 1 (pertama) KPPGPPL mulai mendata, terdapat 1 bunga rafflesia yang sudah lama membangkai dengan ukuran 50 cm, terdapat 10 bonggol/calon bunga rafflesia, 2 diantaranya sudah berukuran besar, terdapat tanaman Inang yang menjalar diketinggian pohon, dan aliran Sungai Air Mas yang kecil. Di dalam lokasi ini KPPGPPL mengirakan adalah Rafflesia jenis bengkuluensis.

Satu bunga rafflesia yg sudah membangkai diameter 50 cm & bonggol dalam kawasan hutan Air Mas
Tiga bonggol rafflesia di lokasi petama dalam kawasan hutan Air Mas
Dua bonggol rafflesia berukuran kecil menempel di tanaman Inang di lokasi pertama dalam kawasan hutan Air Mas

Selesai mendata dilokasi pertama, jelajah dilanjutkan menuju lokasi kedua. Lokasi ini berjarak sekitar 300 meter dari kebun warga. Kembali dengan aktivitas tracking, naik/turun tebing, menelusuri jalan setapak yang ada dalam kawasan hutan Air Mas tersebut hingga sampai ke lokasi Rafflesia.
Awal masuk lokasi ke dua dalam kawasan hutan Air mas
Mendaki tebing padang ilalang dalam kawasan hutan Air Mas Semidang Gumay Kab. Kaur
Dilokasi 2 (kedua) ini, terdapat satu Rafflesia yang sudah membangkai dengan ukuran lebih kurang 30 cm, terdapat 2 bonggol/calon rafflesia 1 diantaranya sudah berukuran besar. juga terdapat tanaman inang ukuran kecil menjalar hingga masuk kedalam tanah. Di sekitar lokasi rafflesia dalam kawasan ini tidak diterdapat sungai yang mengalir. Di lokasi ini KPPGPPL belum dapat mengira jenisnya, sebab bunga yang membangkai tersebut bagian Prosesi dan Ramentanya sudah hancur.
Satu bunga rafflesia yang membangkai di lokasi ke dua dalam kawasan hutan Air Mas Kec. semidang Gumay Kab Kaur
Satu bonggol rafflesia berukuran besar di lokasi ke dua dalam kawasan hutan Air Mas Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur

Satu bonggol rafflesia berukuran bkecil di lokasi ke dua dalam kawasan hutan Air Mas Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur

Foto bersama di lokasi ke dua dalam kawasan hutan Air Mas Kec. Semidang Gumay Kab. Kaur
Selesai mendata KPPGPPL, Burdhany dan Kawan2 menuju pulang. Sampai Jumpa Kembali !!!



|Salam Lestari | Salam Rimbawan | Bengkulu The Land Of Rafflesia |
Thanks To : Burdany, Feily Asmara, Zeko Jayanta, Jedi Lian Chandra | Tim KPPGPPL : Nopri Anto, Ryan Saputra, Hayan Afriza, Evan Gustiawan, Andri Novriansyah, Ricky, Meljon.