Selasa, 16 Juni 2015

LIPI susun strategi rencana aksi konservasi Rafflesia spp

Bogor (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat ini tengah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi untuk flora langka kharismatik Indonesia, khususnya Rafflesia spp dan Amorphophallus spp. 

Foto by Sofian KPPL
"Penyusunan SRAK ini gebrakan anyar karena kali pertama dilakukan di Indonesia untuk bidang flora," kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI, Didik Widyatmoko, dalam Lokakarya Nasional penyusunan SRAK Rafflesia dan Amorphophallus di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Dokumen Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) baru dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bagi fauna saja.

"Ini momentum sangat penting, karena selama ini Kementerian LHK konsen pada satwa-satwa besar saja, tumbuhan juga sangat penting, mikroba juga. Apalagi Rafflesia dan Amorphophallus menjadi ikon Indonesia," katanya.

Dikatakannya, penyusunan SRAK kali ini adalah salah satu kontribusi LIPI sebagai otoritas ilmiah di bidang konservasi dan keanekaragaman hayati di Indonesia. 

Mengingat data dan rekomendasi ilmiah untuk konservasi kedua jenis flora Rafflesia spp dan Amorphophallus spp sulit diimplementasikan tanpa kerja sama dengan Kementerian LHK sebagai pemegang otoritas manajemen konservasi in situ dan keanekaragaman hayatinya. 

Sementara itu, Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK, Adi Susmianto, menyebutkan, ide dasar SRAK Rafflesia spp dan Amorphophallus spp muncul dari pemerintah Provinsi Bengkulu yang mau menjadikan dua puspa langka tersebut sebagai ikon daerah.

Editor: Ade Marboen

Menuju International Symposium on Indonesian Giant Flowers Rafflesia and Amorphophallus 2015

Pusat Konservasi Kebun Raya Bogor (PKT) LIPI bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu serta Dewan Riset Daerah Bengkulu menyelenggarakan Lokakarya Regional dalam rangka persiapan International Symposium on Indonesian Giant Flowers Rafflesia and Amorphophallus 2015 di Putri Gading Hotel, Bengkulu pada Selasa (5/5) kemarin.


Kepala PKT Kebun raya Bogor LIPI, Dr. Didik Widyatmoko mengatakan, tujuan lokakarya ini adalah penyusunan SRAK Puspa langka nasional. “Pentingnya penyusunan SRAK Rafflesia dan Amorphophallus sebagai acuan bagi para pihak untuk menentukan prioritas konservasi in situ dan ex situ,” ujarnya. “Selain itu, melalui lokakarya ini, dirancang pula program pembangunan yang tidak mengancam populasi flora-flora langka ini secara berkelanjutan. Harapannya, kondisi Rafflesia dan Amorphophallus di alam menjadi lebih baik dalam sepuluh tahun mendatang,” sambungnya.

Magnet Dunia
“Kawasan hutan tropis Bengkulu telah lama diketahui menjadi habitat bagi dua flora  raksasa yang sangat dikagumi dunia Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum, hal ini tercatat dalam dunia botani sejarah kota Bengkulu sejak kedatangan Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1818,” tutur Kepala BPP Stada Pemprov Bengkulu, Drs. H. Iriansyah saat membuka LokakaryaRegional Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rafflesia dan Amorphophallus.
“Keberadaan dua flora langka ini telah melambungkan nama Bengkulu dan Sumatera yang juga menyimpan kekayaan flora fauna yang sangat bernilai dan berpotensi besar tidak saja dari sisi keilmuan namun juga sisi ekonomi,” tambahnya.

Iriansyah menambahkan, keunikan bunga Rafflesia dan Amorphophallus menjadi magnet yang luar biasa bagi mata dunia. “Penelitian bidang botani dan para ahli taksonomi yang terus menerus melakukan penelitian terkait flora tersebut guna mendalami kehidupan biologis dan pengembangan potensi nilai ekonomisnya ke depan,” jelasnya.

Pemprov Bengkulu sendiri mengharapkan bunga Rafflesia dan Amorphophallus tidak hanya sekedar icon saja bagi Bengkulu. Harapan ke depan, masyarakat Bengkulu dapat memaksimalkan manfaat keberadaan dua flora langka tersebut melalui labeling Bengkulu sebagai bumi Rafflesia dan Amorphophallus.

Inti resume yang penting ditekankan dan perlu ditindaklajuti dari lokakarya tersebut adalah segera antara lain pembuatan data base dan metode standar SOP konservasi in situ, peningkatan  populasi ex situ Rafflesia dan Amorphophallus, upaya keberlanjutan konservasi dan pengembangan potensi ekonomi, serta perlunya mengajak para pelaku pariwisata untuk mendukung ecotourism, terkait public awareness dan pendanaan.

Selain mengapresiasi rencana penyelenggaraan international symposium mendatang, kepada LIPI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Iriansyah mengharapkan SRAK yang akan dilaunching oleh Menteri LHK dapat dijadikan output jangka panjang dari symposium tidak hanya bagi Bengkulu tetapi juga provinsi-provinsi lainnnya di Indonesia yang memiliki sebaran dua flora raksasa itu.

Sebagai informasi, acara lokakarya terbagi menjadi 3 sidang komisi parallel yaitu Konservasi in situ, konservasi ex situ dan public awareness dan fund raising. Bertindak sebagai fasilitator masing-masing dari Universitas Bengkulu, Kepala BKSDA Bengkulu, dan PKT Kebun Raya Bogor LIPI. Acara ditutup dengan pembacaan resume hasil lokakarya oleh ketua Komisi III DRD Bengkulu dan diserahkan kepada Panitia Pengarah Simposium untuk dilokakaryakan pada tingkat nasional sebelum bulan September.

Lokakarya ini juga dihadiri oleh Dewan Riset Daerah, DPRD Bengkulu, LSM Komunitas Pecinta Rafflesia dan Amorphophallus, serta Dinas Kehutanan, Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Dinas Kehutanan Pemprov Bengkulu dan Balai Taman Nasional dari seluruh provinsi di Sumatera, serta LSM seperti WWF dan TFCA di Sumatera.(mk)

Puspa Langka Nasional Ini Dalam Masa Kepunahan

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 Tentang Satwa dan Bunga Nasional menetapkan Rafflesia Arnoldii sebagai bunga Nasional yang penyebutannya dikukuhkan sebagai puspa langka. Hanya saja, minimnya upaya perlindungan dan pelestarian populasi, habitat dan ekosistem puspa terbesar di dunia yang amat rentan mengalami kepunahan ini dalam masa kepunahan.

“Sejauh ini, upaya yang dilakukan pemerintah masih sebatas pada aturan dan kebijakan. Aksi konkret pemerintah masih jauh dari yang diharapkan. Padahal aksi konkret pemerintah sangat dibutuhkan. Minimnya upaya pemerintah secara tidak langsung mengakibatkan R. Arnoldi semakin terancam punah,” kata Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Sofian Ramadhan dihubungi Senin (15/6/2015) malam.

Oleh karena itu, Sofian berharap, pelaksanaan Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophalus 2015 yang akan dilaksanakan pada 14 -17  September 2015 di Bengkulu dapat menghasilkan strategi dan rencana aksi konservasi R. Arnoldi yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat. “Selama ini, hanya segelintir penduduk lokal yang berupaya melakukan perlindungan. Itupun dilakukan secara swadaya, tanpa adanya dukungan atau perhatian dari pemerintah,” tambah Sofian.

Dilansir http://www.mongabay.co.id pada 25 Februari 2015, Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya menerangkan, rafflesia (termasuk Raffelsia Arnoldii) sangat rentan mengalami kepunahan karena bersifat holoparasit. Yakni, tidak memiliki akar, batang dan daun, melainkan hanya berupa kuncup atau bunga dan dilengkapi haustorium yang memiliki fungsi mirip akar yang menghisap sari makanan hasil fotosistesa dari tumbuhan inang. Oleh karena itu, kehidupan rafflesia sangat bergantung pada inangnya. Di lain sisi, kehidupan inang juga sangat tergantung dengan tumbuhan lainnya yang menjadi inang strukturalnya.

Siklus hidup rafflesia bisa mencapai 5 tahun dan terdiri dari 7 fase, meliputi proses penyerbukan, pembentukan buah dan biji, penyebaran biji, inokulasi biji ke inang, kemunculan kuncup bunga atau knop, kuncup yang matang dan bunga mekar. Kuncup rafflesia tumbuh di akar atau batang inang. Sehingga, bisa ditemui tumbuh di permukaan tanah atau menggantung di batang inang. Kuncup yang menggantung disebut juga aerial bud.

Masa mekarnya berlangsung antara 3 – 8 hari. Saat musim kemarau, bunga akan mekar pada hari terjadi hujan. Sedangkan saat musim penghujan, bunga akan mekar pada hari tidak tejadi hujan. Saat mekar, bau daging busuk akan tercium dan mengundang banyak lalat. Lalatlah yang membantu penyerbukan bunga rafflesia. Setelah mekar, mahkota bunga membusuk. Namun bagian dasar bunga rafflesia betina akan membentuk buah.

Waktu yang diperlukan buah untuk matang berkisar 6 hingga 8 bulan. Buah rafflesia yang matang biasanya dimakan Tupai (tupai javanica) dan Landak (Hystrix javanica). Di dalam buah terdapat banyak biji yang berbentuk polong atau kacang-kacangan. Kulit bijinya sangat keras dan sulit pecah. Bila tidak mati, biji akan menginokulasi ke inang. “Namun, bagaimana proses inokulasi biji dan perkembangan biji dalam tubuh inang belum diketahui,” tambah Agus.

Dari aspek reproduksi, rafflesia memerlukan bunga jantan dan betina yang mekar agar terjadi penyerbukan, dan agen penyerbukannya. Padahal, sangat jarang ditemukan bunga jantan dan betina yang mekar saat bersamaan dalam satu lokasi. Ironisnya lagi, tidak semua bunga betina yang mengalami penyerbukan akan menghasilkan biji buah yang terletak di dasar mahkota bunga.
Aspek lainnya adalah kematian rafflesia cukup tinggi. Dari injakan satwa hutan, dimakan oleh tupai dan landak hingga perusakan kuncup atau bunga oleh manusia jahil. “Meskipun tidak mengalami gangguan akibat aktivitas manusia, populasi rafflesia akan cenderung turun atau sangat rentan mengalami kepunahan. Itu dikarenakan sedikit kuncup yang hidup dan menjadi bunga, dan sedikit bunga yang menjadi buah, serta sedikit biji yang berubah menjadi kuncup,” tutur Agus.
Ancaman lebih serius disebabkan oleh pemotongan inang, pembalakan liar dan perladangan yang tidak mendukung siklus hidup rafflesia. ”Di dunia, bunga rafflesia masuk dalam kategori terancam punah. Namun, menurut saya justru sedang dalam masa kepunahan,” kata Agus secara terpisah sebagaimana dilansir http://www.kompas.com pada 20 Juli 2011. (**) 

Jumat, 12 Juni 2015

Main-Main Ke Bukit Botak


Bukit Botak terletak di Bandar Baru, memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Medan dengan menggunakan transportasi darat dan 2 jam pendakian dihitung dari simpang menuju bukit. Sebagai tempat wisata yang baru booming, Bukit Botak masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Keberadaan Bukit Botak menambah khasanah Pariwisata Deli Serdang.

Setelah sempat beberapa kali gagal landas, niat untuk menapakkan kaki di Bukit Botak akhirnya tercapai juga. Kadang bingung sebenernya alasannya apa, tapi ya gitu sih, intinya beberapa kali enggak bisa ikutan jejalan bareng Traveling Medan Comm. So sad!!

Perjalanan kali ini cukup menggiurkan, bagaimana tidak?. Rombongan trip banyak yang masih belum kenal dengan gunung, padahal mereka wanita, sedihnya disitu bahagianya lebih banyak tapi. Kenava? Mereka kaum yang harus dilindungi oleh para pria memiliki tekad sekuat baja dan sedalam samudera. Meski melewati jalan yang kupak-kapik, lumpur berwarna coklat dan mulut yang tak henti berguman “I am so tired” akhirnya kami tiba diatas Bukit. But I wanna add some information, jadi… gak cuma Bukit Botak, tapi ada juga SungaiDua Rasa dan Air Terjun Sampuren Putih disekitar daerah ini, wait another article yeah hunny *emotcipok*. Thank lord, hujan turun dan mau tidak mau mau mau kami harus memasang tenda secepat mungkin. Ada niat sih sebenernya untuk manjat ajah di pohon tetapi sebagai seorang yang peduli (etseh) akan keberadaan wanita-wanita cantik yang kami bawa dan menunjukkan bahwa kami adalah anak-anak yang selalu teriak "Salam Lestari", akhirnya kami menurunkan ego dan menaikkan tenda tempat mereka berteduh dan tiduran. Hujan melengkapi kesyahduan tatkala tenda sudah terpasang begitu rapi. Imutnya lagi adalah hujan reda tepat setelah tenda selesai terpasang. Bagaimana kami harus menutupi keimutan itu? biarlah, hanya pak polisi yang menilang warga.


Berbekal makanan mewah, dinner time kami lakukan ala kadarnya. You got what I mean, right?. Dengan perut kenyang tibalah saat dimana aksi bully-membully dijalankan (not to be imitated). We made it only for fun purpose, enggak lebih dan enggak kurang, kalau kamu ndak percaya monggo ambil timbangan. Puas mengorbankan satu dengan yang lain sebagai bahan bully, kita memutuskan untuk memandang langit yang begitu amazing di malam hari. Hallo Pariwisata Sumatera Utara, kamu benar-benar menggoda. Nun jauh disana terlihat lampu berkelap-kelip, nun semakin jauh disana ada juga lampu-lampu menari-nari. Hei…..!! itu Kuala Namu International Airport, a way to explore North SumatraTourism.

Romantic moment, yap beneran!! Suer ane tidak bohong kedan!. Tapi berhubung status jomblo masih mewarnai dunia relationship. I gotta take a lil bit longer to wait them (the group) for having date. Bahagianya disitu, walaupun pada bawa pasangan mereka itu masih aja gitu peduli sama saya. HIKZ…!!

Waktu berlalu dan cepat menguntai waktu (thank teteh Rosa). Pagi pun hinggap dipelupuh mentari. We’re waiting for sunset, an habit as adventurer, gitu. Agak ragu juga sih sebenernya ini sunset bakal datang atau kita harus datang lagi ke Bukit Botak biar bisa nyaksiin moment-moment saat matahari dipuja serta dipuji. “Kok mikirnya gitu sih, Anton?”. Bagaimana tidak, awannya pagi-pagi udah keliling aja, pawai.

Yah walaupun akhirnya jadi kenyataan, sunrise gak bisa keliatan dan kita harus pulang karena apartement menunggu kehadiran pangeran. 09.00 we decided to go back, Medan’s waiting us. UhYEAh. 

Rabu, 10 Juni 2015

Indahnya Air Terjun Lau Bengaru Di Sumatera Utara

air terjun lau bengaru yang indah di sumatera utara
Air Terjun Lau Bengaru adalah air terjun yang indah,memiliki ketinggian sekitar 25 meter . Air terjun ini terletak di desa telagah,langkat,Sumatera Utara. Jarak dari Kota Binjai sekitar 2 jam perjalanan menuju Base camp pemandu air terjun tersebut.Untuk menuju ketempat ini bisa menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat.Jalan yang dilalui pun mulus kecuali ketika akan menuju air terjun ini yaitu jalan perkampungan yang notabene belum beraspal.
mengabadikan moment di air terjun lau bengaru
Keindahan Air terjun Bengaru adalah air terjunnya yang bersih dan juga masih banyak ikan-ikan yang hidup disekitar air terjun ini. Salah satu ikan tersebut adalah ikan jurung yang hidup disini dan terkenal sebagai ikan yang harganya cukup mahal.Selain itu air terjun ini pun tak keruh ketika hujan datang.Jadi walaupun kita berkunjung kesini saat hujan,jangan kawatir karena air terjun bengaru tetap bersih dan jernih.
air terjun bengaru yang tetap jernih walaupun saat hujan datang
Untuk jalur trekking dari base camp pemandu air terjun hingga ke air terjun,dapat di capai dengan trekking berjalan kaki ataupun bisa menggunakan sepeda motor.Dan disarankan bagi yang menggunakan sepeda motor agar mengecek kesiapan kendaraan agar tidak terjadi kendala saat melalui jalan desa yang berbatu dan berlumpur.Saat saya ke air terjun ini bersama teman-teman SaLam Binjai Community di tanggal 27 maret 2014 saya mengendarai motor matic saya.Walaupun disarankan pemandu air terjun agar tidak menggunakan motor matic.Tapi apa boleh buat ,motornya cuma itu mau tidak mau ya harus dipacu,karena memang keinginan saat itu mencapai air terjun bengaru.

Kira-kira setelah menempuh 90 menit perjalanan dari basecamp pemandu kami memarkirkan kendaraan di area yang sudah disediakan. Dan berjalan menuruni bukit selama 15 menit,barulah kami sampai di air terjun bengaru.Suara gemuruh air terjunnya sangat menenangkan ditambah suasana alam yang masih sangat asri tanpa ada polusi,sampah dan illegal logging.Setelah sampai kami langsung menceburkan diri di dinginnya air terjun ini.Segar rasanya hingga kepenatan aktifitas sehari-hari di kota hilang sudah.Disekitar air terjun ini pun banyak terdapat air terjun yang berukuran kecil untuk dinikmati.Ketika kami rasa cukup,kami pun bergegas pulang kembali menuju Kota Binjai.Dan yang tak kalah penting,untuk menjaga tempat ini agar tetap asri tidak kotor karena sampah ataupun coretan di tebing dan bebatuannya. Dan tidak rusak akibat adanya illegal logging atau penebangan pohon secara ilegal agar warisan alam di sumatera utara ini dapat disaksikan hingga ke anak cucu kita.

SaLam Lestari...
SaLam Binjai Community
(Sahabat Alam)



Sabtu, 06 Juni 2015

Peninggalan Batu Megalitik Gunung Agung Kaur Utara

Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu. Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar, karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh leluhur (nenek moyang), Kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat.

Di Indonesia, beberapa etnik masih memiliki unsur-unsur megalitik yang dipertahankan hingga sekarang.Salah satunya adalah masyarakat dari suku Basemah/Pasemah. Suku Basemah/Pasemah merupakan suatu masyarakat adat yang bermukim di beberapa wilayah dari 3 propinsi di pulau Sumatera Bagian Selatan, yaitu; Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung  berada di kaki Gunung Dempo. Tinggalan-tinggalan megalitik di wilayah ini tersebar sebanyak 19 situs, berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Budi Wiyana (1996), dari Balai Arkeologi Palembang. Tinggalan megalitik Basemah/Pasemah muncul dalam bentuk yang begitu unik, patung-patung dipahat dengan begitu dinamis dan monumental, yang mencirikan kebebasan sang seniman dalam memahat sehingga tinggalan [megalitik basemah/pasemah], disebut oleh ahli arkeologi sebagai Budaya Megalitik Basemah/Pasemah. Nilai penting tinggalan megalitik Pasemah terutama adalah pada ketuaan usianya, yang diperkirakan sekitar 2000 tahun sebelum masehi atau sekitar 4000 tahun yang lalu. Kita dapat membayangkan pada masa itu kebudayaan manusia di dunia masih belum terlalu berkembang, namun di tanah Basemah/Pasemah telah hidup budaya masyarakat yang cukup maju.


Masyarakat Padang Guci, Kedurang, Kinal, dan lain - lain adalah masyarakat berasal dari suku Besemah/Pasemah yang bermukim di wilayah kaki Bukit Raje Mendare. Kepercayaan terhadap (Ajaran) Leluhur masih sangat kental. Masyarakat adat ini begitu menjunjung tinggi (roh) para leluhur dan ajaran-ajarannya. Kepercayaan terhadap nenek moyang ini senantiasa dipelihara oleh mereka hingga berabad-abad. 

Salah satu contohnya adalah sebuah batu besar yang berada di desa Gunung Agung Kec. Kaur Utara Propinsi Bengkulu. Batu ini berbentuk bundar dengan panjang 2,4 m, lebar 1, 2 m, dan tinggi 1, 7 m. Batu ini dimanfaakan oleh penduduk lokal untuk berziarah kepada (roh) leluhur (puyang).


Masyarakat desa Gunung Agung menamakan batu ini adalah "Batu Beidung" karena dulunya batu ini berbentuk menyerupai hidung. Akibat tangan jahil manusia yang tak bertanggung jawab, batu dibelah sehingga berbentuk bundar seperti yang dilihat saat ini. Konon, untuk melihat batu ini tidak boleh sembarangan masuk, bebicara kotor, apalagi merusak karena akan mengakibatkan malapetaka bagi diri orang tersebut.

Disekitar batu ini juga terdapat Batu Farmasi 4 (batu empat) persis seperti Batu Empat yang berada di desa Naga Rantai Kec. Padang Guci Hulu. Konon, Batu empat ini merupakan tempat para leluhur (puyang) dari empat penjuru untuk bermusyawarah.

 

Upaya dari  perlindungan terhadap kedua batu ini, seperti pemberian pagar, atap, dll, sama sekali belum terlihat. 

Demikian sekilas tentang sejarah peninggalan batu megalitik desa Gunung Agung Kac. Kaur Utara Kabupaten Kaur. Semoga Bermanfaat!

KPPGPPL - Jelajah Situs 5 Mei 2015

Rabu, 03 Juni 2015

Cughup Desa Naga Rantai Padang Guci Hulu

Desa Naga Rantai selain memiliki peninggalan Cagar Budaya yaitu Batu Farmasi 4 juga memiliki potensi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah "Cughup Naga Rantai".


Cughup ini memiliki ketinggian mencapai 6 meter dan mempunyai aliran yang cukup deras.  Aliran sungainya membentuk sungai kecil mengalir tenang dan cukup dalam dan bermuara di Sungai Kule. Suasana disekitarnya pun terasa dingin dan sejuk karena disekelilingnya terdapat pohon - pohon besar menjulang tinggi. Banyaknya pohon - pohon besar tumbang membuat, membuat kondisi penampungan kolam terlihat lebih sempit.

Kata "Cughup" sebutan penduduk lokal untuk "Air Terjun" atau air yang mengalir dari ketinggian tertentu.

Untuk ke lokasi Cughup ini dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan berjalan kaki. Dimulai Dari desa Naga Rantai terlebih dahulu, kemudian menelusuri jalan setapak kebun coklat penduduk hingga akhirnya melintasi area pesawahan kule. Mata kita sedikit dimanjakan dengan pemandangan persawahan yang nan hijau dan luas yang sepertinya baru habis tanam.


Perjalanan dilanjutkan kembali dengan menenusuri Sungai Kele, Sungai kecil bebatuan yang licin dan mengalir cukup deras. Aliraan sungai inilah dimanfaatkan penduduk lokal untuk mengairi persawahan.


Bekisar 15 menit perjalan menelusuri sungai ini, Tim Ekspedisi menemukan tanaman langka yaitu Amorphophallus/Bunga Bangkai. Bunga Bangkai tumbuh dengan ketinggian sekitar 2 meter di tepi Sungai Kule. 


Untuk benar - benar sampai ke lokasi "cughup" tim pun kembali harus menulusuri sungai yang merupakan aliran Cughup itu sendiri. Kondisi sungainya pun cukup dalam dan sempit, disisi kanan - kiri dihapit jurang yang cukup tinggi. Dari sini perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit hingga sampai dilokasi.


Rasa lelah pun terobati setelah kita sampai di lokasi Cughup ini, suasana air terjun yang menarik di pandang mata, dingin dan sejuk langsung membuat kami bergegas untuk mandi dan tentunya tak lupa berpose - pose. :P

Karena hari sudah mulai gelap, kami pun bergegas untuk pulang kembali ke desa Naga rantai. Sebelum meninggalkan desa ini tidak lupa kami mengunjungi situs peninggalan megalitik "Batu Farmasi (batu 4)".


Desa Naga Rantai secara administratif masuk berada di wilayah Kecamatan Padang Guci Hulu, terletak di 200 km di selatan Kota Bengkulu, sekitar 60 km di sebelah utara kota Bintuhan Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.

Lihat Cuplikanya di Youtube : https://youtu.be/pfsAEYJoaZ8

KPPGPPL Adventure 2 Juni 2015
Tim Ekspedisi : Nopri, Yoga, Joko, Wan, Murslin, & Herman.
Nantikan Petulangan Kami Berikutnya !